Palmerah.online

Ayatullah Khamenei, Rahbar Sang Pemimpin Spiritual dan Politik

Palmerah.online

Ayatullah Ali Hussein Khamenei telah melewati usia 80 tahun. Tubuhnya yang tinggi-besar, terlebih lagi pakaian khas Iran, seakan memberi wibawa sebagai pemimpin agung Iran (rahbar). ia adalah rahbar kedua setelah gurunya, Ayatullah Ruhollah Khomeini, penggerak Revolusi tahun 1979. Selama 37 tahun, Khamenei menjadi pemimpin yang memiliki otoritas begitu luas. Dengan sistem pemerintahan di Iran, ia bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai pemimpin politik, pemimpin militer, pemimpin negara. Dalam arti keputusan terakhir berada di tangan Khamenei. Untuk urusan faktual memang ada posisi-posisi tinggi di bidang eksekutif, presiden dan perdana menteri. Namun, Khamenei adalah suara paling tinggi yang menentukan sikap Iran sejak menggantikan  Khomainei pada 1989.

Ali Khamenei, permimpin tertinggi Iran Youtube-Republic World

Khamenei yang dilaporkan meninggal dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat-Israel pada Sabtu, 28 Febrruari 2026, adalah supreme leader atau pemimpin agung Iran yang berkuasa sejak tahun 1989, setelah meninggalnya Ayatullah Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979. Kekuasaannya cukup lama, sekitar 37 tahun. Sejak revolusi, Iran baru memiliki dua pemimpin agung, yaitu Khomeini dan Khamenei.

Pemimpin agung (vali-e faghih) atau disebut juga sang penjaga hukum (rahbar-e enghelab) adalah kekuasaan tertinggi di Iran, di bidang agama maupun politik. Otoritasnya melampaui presiden yang merupakan kekuasaan eksekutif yang menjalankan roda pemerintahan. Pemimpin agung ini dapat menunjuk pemimpin militer, pemerintah sipil, dan pemimpin yudikatif. Pemimpin agung juga otomatis pemimpin spiritual.

Dengan posisinya yang tinggi  itu, sebetulnya tidak mudah menjadi pemimpin agung. Ada persyaratan yang mesti dipenuhi. Sosok sekaliber Khomeini memang tidak diragukan lagi. Ia berada di hierarki tertinggi sebagai ulama dalam tradisi Syiah.  Dalm konstitusi Iran disebutkan bahwa pemimpin agung adalah sosok yang telah berada di tingkat tertinggi ulama, yaitu marja-e taqlid (mujtahid). Di bidang agama sudah pada tingat sangat otoritatif.

Perubahan konstitusi

Namun sepeninggal Khomeini pada tahun 1989, konstitusi diubah. Kriteria keagamaan (marja’iyyat) diturunkan. Semula seorang pemimpin agung adalah ulama yang sudah berada tingkat marja-e taqlid (ayatullah) diturunkan cukup di kriteria ulama tingkat menengah yaitu hojatul Islam, kira-kira kategori “cendekiawan”.  Hal itu terjadi karena pasca Khomeini tidak ada ulama yang memenuhi syarat di konstitusi pertama. Perubahan konstitusi ini tak lepas agar transisi kepemimpinan di Iran berlangsung stabil.

Sebetulnya saat itu ada ulama yang levelnya setara dengan Khomeini. Bahkan ia pun sudah ditunjuk sebagai penggantinya. Dia adalah Ayatullah Hussein-Ali Montazeri. Montazeri juga pemimpin Revolusi 1979.  Namun, ia dikenal sebagai penganjur demokrasi Islam dan konsen pada hak asasi manusia. Kala itu Montazeri mengkritik dan menyatakan keberatan atas berbagai kebijakan pemerintah yang dinilainya mencederai kebebasan dan hak asasi masyarakat. Situasi pun begitu cepat berubah. Posisi Montazeri goyah dan akhirnya tidak jadi menduduki kursi pemimpin agung.

Tentu saja Iran tak ingin suksesi tidak berjalan stabil. Tidak dikehendaki pula ada terjadi kevakuman pemimpin yang dapat menimbulkan krisis kepemimpinan di Iran. Dalam konteks itulah, dapat dilihat bagaimana konstitusi diubah. Kala itu, nama Ali Khamenei menjadi calon terkuat. Secara politik, ia di posisi tertinggi, di kursi presiden sejak 13 Oktober 1981, meskipun jabatan presiden lebih terlihat sebagai posisi seremonial. Sebagai ulama, ia berada di level menengah sebagi hojatul Islam. Tetapi dengan konstitusi baru, tidak ada halangan bagi Khamenei menjadi penerus Khomeini, yang tak lain adalah murid sang ayatullah.

Ayatullah Ali Khamenei iraninternational

Murid Khomeini, pendukung revolusi

Khamenei belajar agama tingkat lanjut di Qom, sebuah kota suci bagi kelompok Syiah. Ia berguru pada ulama Syiah, di antaranya Khomeini.  Khomeini secara terbuka menentang pemerintahan Raja Shah Mohammad Reza Pahlavi pada tahun 1963. Khomeini menilai program sekularisasi yang dijalankan pemerintah akan merusak nilai-nilai Islam. Pahlavi juga diangggap terlalu condong dan tunduk pada Barat. Khamenei menjadi penyokong Khomeini. Ia adalah aktivis yang sudah aktif melakukan kritik dan protes terhadap praktik sistem monarki Iran sejak tahun 1963, Akibatnya ia ditahan beberapa kali. Dan, sejak tahun 1964 Khomeini sendiri diasingkan di luar negeri selama 14 tahun.

Selama masa pengasingan, Khamenei tetap berhubungan dengan Khomeini. Ketika Revolusi Iran meletus dan Khomeini kembali ke Iran, Khamenei menjadi anggota Dewan Revolusi. Ia kemudian menjadi wakil menteri pertahanan. Bahkan ditunjuk sebagai perwakilan pribadi Khomeini di Dewan Pertahanan Tertinggi. Posisi politiknya terus menguat hingga ia memimpin Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Khamenei juga termasuk pendiri Partai Republik Islam (IRP).

Pada tahun 1981, terjadi teror bom terhadap IRP yang dilancarkan Mujahidin-e Khalq. Sebagai jajaran teras IRP, Khamenei  termasuk target pembunuhan. Sebuah bom yang dipasang di dalam kaset perekam meledak di hadapan Khamenei, yang mengakibatkan ia terluka cukup serius. Tetapi ia selamat. Ia harus dirawat di rumah sakit. Ia mengalami problem di lengan, pita suara, dan paru-paru. Bahkan lengan kanannya mengalami kehilangan fungsi secara permanen. Ia pun terbaring di rumah sakit untuk beberapa bulan lamanya.

Posisi Presiden

Khamenei terpilih sebagai presiden pada Oktober 1981. Jabatan presiden berlangsung selama empat tahun. Pada tahun 1985, ia terpilih kembali hingga tahun 1989. Pasca meninggalkan kursi presiden, Khamenei menempati posisi rahbar pemimpin agung Iran, sesudah konstitusi diubah yang membuat ia dapat menempati posisi tersebut.

Selama memimpin Iran, Khamenei  dikenal sebagai pemimpin garis keras yang pragmatis. Ia menjadi simbol perlawanan Iran terhadap Barat, terutama Amerika dan Israel. Di bawah kendalinya, posisi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) semakin kokoh. Ia menjadi kekuatan utama di balik program nuklir Iran yang ditakuti oleh Barat.

Dalam menghadapi Barat, Khamenei mendapat partner yang tepat yaitu Presiden Mahmoud Ahmadinejad, terutama pada periode pertama  (2005-2009).  Ahmadinejad terlihat agresif terhadap lawan-lawan politik, terutama sikapnya terhadap barat. Ia bahkan berani memamerkan program nuklir Iran. Meskipun  begitu, keduanya tak selalu seiring sejaln. Terkadang berseberangan juga, terutama pada masa periode kedua jabatan Ahmadinejad (2009-2013).

Program nuklir Iran juga yang membuat Iran menerima konsekuensi semakin berlapis-lapis di dunia internasional. Iran mengalami isolasi internasional, sanksi ekonomi, dan sejak lama embargo militer. Iran menjadi sasaran politik luar negeri Amerika serikat yang ofensif, dan sekaligus menjadi incaran Israel.  Rivalitas dan konfrontasi Iran versus Israel yang didukung AS menjadi ketegangan regional di Timur Tengah.

Khamenei bertemu Presiden China Xi Jin Ping, 2016 iraninternational
Khamenei bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, 2022 iraninternational

Gagalnya kesepakatan nuklir

Di bawah PBB, Iran pun duduk di meja perundingan untuk membahasa program nuklir. Hal itu terjasi sejak Iran dipimpin Presiden Hassan Rouhani, pengganti Ahmadinejad. Kebijakan luar negeri Iran agak berubah. Rouhani membawa Iran tidak terlalu tegang dengan Barat. Iran harus mengakhiri program nuklir dengan kompensasi pencabutan sanksi. Negosiasi memang berjalan alot. Walaupun Khamenei keberatan tentang aspek-aspek perjanjian yang dinilai dapat mencederai  kedaulatan Iran, akhirnya pada tahun 2015, kesepakatan tercapai juga dengan persetujuan Khamenei.

Namun pada 2018, AS menarik diri dari perjanjian tersebut. Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan itu tidak cukup membatasi Iran. AS memberlakukan sanksi kembali. Ini tak lepas buntut situasi yang terjadi di dalam negeri. Pasa kesepatan tersebut ternyata tidak ada perbaikan dalam kehiduapn masyarakat, sehingga melahirkan demonstrasi pada Desember 2017. Dengan mentahnya kesepakatan itu, Iran kembali pada pengembangan militer.

Pada tahun 2019 Khamenei kemudian bersikap tegas yaitu menolak negosiasi ulang perjanjian dengan AS. Sementara di dalam negeri terjadi aksi protes masyarakat menyusul kenaikan harga bahan bakar. Terhadap aksi tersebut, Khamenei memerintahkan penindakan dan menyebut para demonstran diprovokasi oleh Barat. Bagi Khamenei, para demonstran itu merusak negara sendiri, dan  hanya untuk menyenangkan presiden AS. AS dan dan Reza Pahlavi, putra mantan Shah,  yang hidup di  AS memang mendukung gerakan rakyat Iran.

Melawan AS dan Israel

Kegentingan mulai memuncak. Konsulat Iran di Najaf, Irak, dibakar. Dan,  komandan IRGC Jenderal Qassem Soleimani juga dibunuh oleh AS pada Januari 2020.  Sebaliknya AS menuding Iran melakukan kekerasan terhadap rakyatnya yang berdemonstrasi menentang pemerintah. Tensi hubungan Iran dan AS berada pada titik mendidih.

Pada Juni 2025, AS bersama sekutunya, Israel melakukan “Midnight Hammer Operation” melancarkan  serangan  ke Irand engan taregt fasilitas-fasilitas nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan.  Irak memberi perlawanan sengit, bahkan berhasil mengirim rudal-rudal ke Israel. Perang berlangsung selama 12 hari.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel kembali melancarkan serangan lebih masif terhadap Iran. Serangan itu bertujuan menghancurkan infrastruktur militernya dan menargetkan rezim berkuasa. Serangan yang bertubi-tubi bukan hanya instalasi militer Iran tetapi justru menyasar sekolah-sekolah dan bangunan sipil. Tetapi, Iran kembali memberi perlawanan sengit, bahkan balasan telak. Irak berhasil mengirim rudal-rudal dan drone ke Israel. Tel Avivi dilaporakn mengalami kerusakan signifikan. Bahkan Iran mampu mengirim rudal dan menghancurkan fasilitas militer AS di negara-negara Teluk seperti di Kuwait, UEA, Bahrain, dan Qatar.

Khamenei gugur

Dilaporkan Khamenei pun gugur dalam serangan hari pertama yang dilancarkan AS dan Israel. Menurut keterangan pemerintah, Khamenei tidak ingin berlindung dari target serangan, jika lebih dari 80 juta rakyat Iran juga tidak terlindungi. Berdasarkan citra satelit, kediaman atau kantor Khamenei lulu lantak dihantam rudal. Khamenei bersama beberapa anggota keluarganya menjadi korban serangan yang dinamakan “Epic Fury Operation” itu.

Dalam tradisi Iran, Khamenei gugur sebagai martir. Khamenei lahir pada 19 April 1939, di kota Mashhad. Ayahnya, Sayid Javad Khamenei, beretnis Turki Azerbaijan dari Khamaneh. Ditengarai terkoneksi dengan Husain bin Ali. Ibunya adalah etnis Persia dari Yazd. Ia memiliki tiga saudara laki-laki, dua di antaranya adalah ulama yaitu Mohammad Khamenei dan Hadi Khamenei. Saudara perempuannya, Badri Khamenei adalah istri Ali Tehrani yang membangkan dan melarikan diri ke pengasingan pada tahun 1980-an. Khamenei menikah dengan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Dari perkawinan mereka lahir enam anak: empat putra yaitu Mostafa, Mojtaba, Masoud, dan Meysam; dan dua putri yaitu Boshra dan Hoda.(P5).

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku