Palmerah.online

35 Perguruan Tinggi Pakistan Menembus  Rangking QS

Palmerah.online
Kampus National University of Sciences and Technology (NUST) yang didirikan di Islamabad Pakistan, Maret 1991. NUST

Masuknya 35 universitas Pakistan dalam Quacquarelli Sysmonds (QS) World University Rankings  2026 adalah prestasi yang mengagumkan. Meski demikian, kita mesti melihatnya secara lebih mendalam dan bersikap kritis.

Capaian itu menunjukkan prestasi perguruan tinggi di Pakistan, negara yang menjadi tempat perundingan Amerika Serikat – Iran,  mengalami kemajuan. Tetapi, apakah benar semua perguruan tinggi mengalami kemajuan yang sama atau sekadar simbol bagi dunia luar ? Simbol bahwa Pakistan  yang berpenduduk 258 juta jiwa mengalami kemajuan, tetapi hanya untuk segelintir perguruan tinggi saja.

National University of Sciences and Technology (NUST) memang berdiri paling kokoh di antara rekan-rekannya. Universitas riset publik yang berbasis di Islamabad itu dikenal memiliki ekosistem inovasi paling maju di Asia Selatan. Ratusan hasil risetnya tersebar di berbagai jurnal internasional. Sebagian hasil riset telah dikonversi menjadi produk komersial. Meski demikian,  keunggulan NUST justru menyimpan paradoks tersendiri: ia terlampau dominan.

Masalah sesungguhnya terletak pada kesenjangan yang menganga antara universitas besar di kota-kota utama dengan ratusan institusi lain yang tersebar di Balochistan, Khyber Pakhtunkhwa, dan pedalaman Sindh. Pakistan memiliki lebih dari 250 perguruan tinggi, tetapi pengeluaran riset dan pengembangannya hanya 0,164 persen dari PDB. Angka ini  jauh di bawah negara-negara yang telah berhasil mentransformasi pendidikan tinggi menjadi mesin ekonomi. Tanpa pemerataan investasi, peringkat global hanya akan menjadi prestasi segelintir institusi, bukan cerminan kemajuan sistem secara keseluruhan.

Ada pula soal yang lebih mendasar: produktivitas riset Pakistan tumbuh, tetapi komersialisasinya terhuyung. Komisi Pendidikan Tinggi (HEC) mengakui bahwa hubungan antara dunia akademik dan industri masih rapuh, sementara dominasi pendanaan publik di tahap riset tidak diimbangi dengan masuknya sektor swasta di tahap pengembangan dan komersialisasi. Akibatnya, hasil riset menumpuk di laci-laci laboratorium, alih-alih bergerak menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan ekonomi bangsa. Persis yang dialami Indonesia.

QS adalah perusahaan analitik pendidikan tinggi berbasis di London, Inggris pada tahun 1990.  QS World University Rankings adalah pemeringkatan universitas dunia yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut setiap tahun, dan saat ini menjadi salah satu dari tiga sistem pemeringkatan universitas global paling berpengaruh di dunia, bersama Times Higher Education (THE) dan Academic Ranking of World Universities (ARWU/Shanghai Ranking).

Peringkat QS adalah cermin, bukan piala. Momentum ini semestinya tidak dirayakan dengan puas diri, melainkan dijadikan titik tolak untuk mereformasi tata kelola riset, serta membangun jembatan yang lebih kokoh antara universitas dengan dunia industri. Bagi perguruan tinggi di Indonesia, fenomena ini layak menjadi kajian. Apakah Indonesia akan memprioritaskan segelitir perguruan tinggi melesat tinggi ke kelas dunia, ataukah mengutamakan pemertaan. Keduanya mempunyai keuntungan sekaligus resiko masing-masing. Tinggal pilih yang sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara Indonesia. (P3)

(Sumber: topuniversities, propakistani, dawn).

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku