Kolom
Mengapa Amerika Latin Ogah Dukung Argentina?
M Subhan SD
Ketika menonton pertandingan antara Mesir vs Argentina, dalam penerbangan dari Istanbul, Turki, menuju Bogota, Kolombia, 7 Juli 2026, saya ragu-ragu mendukung Mesir. Saya perhatikan, banyak penumpang berwajah Latin atau Hispanik, banyak juga bule, ada juga berwajah Asia Barat Daya atau Timur Tengah. Dalam benak saya, pesawat itu menuju negara Amerika Latin, maka saya menduga berada di tengah-tengah pendukung Argentina.

Saya pun agak malu-malu melampiaskan dukungan ke pasukan Mo Salah kecuali kepada penumpang di samping kanan saya, orang Rusia yang bekerja di Kuba, yang tampaknya juga mendukung Mesir. Namun begitu tandukan back Yasser Ibrahim menjebol gawang Argentina di menit ke-15, hampir seluruh penumpang berteriak. Sorak-sorai bergemuruh di kabin pesawat Airbus 350-900 berkapasitas sekitar 400 penumpang di ketinggian 10.000 meter di atas permukaan laut itu. Saya tersadar ternyata sebagian besar, ya wajah-wajah Latin itu malah mendukung Mesir.
Peristiwa kedua terjadi saat partai final antara Spanyol vs Argentina. Ini partai idaman, tak boleh dilewatkan. Dua juara benua. Menjadi pertandingan paling sakral di puncak laga. Spanyol adalah juara Piala Eropa (UEFA Euro) 2024, dan juara Piala Dunia 2010. Argentina adalah juara Piala Amerika Latin (Copa America) 2024, juara bertahan Piala Dunia 2022, juga juara tahun 1978 dan 1986. Saya bayangkan pertandingan akan sangat menarik, walaupun biasanya di pertandingan final, gaya permainan agak terlihat hati-hati.
Saya menonton pertandingan final di sebuah kafe di kawasan San Isidro, Lima, ibu kota Peru. Bersama keluarga saya agak ragu-ragu juga mendukung Spanyol. Kami adalah minoritas. Serombongan orang Indonesia di negara Amerika Latin, di antara orang-orang Hispanik dan Mestizo. Sebetulnya, saya pendukung berat Argentina karena sejak kanak-kanak memori pertama kali menonton Piala Dunia 1978 adalah jersey kaus putih dengan tiga garis biru muda Argentina dengan bintang Mario Kempes dan Maradona kala itu.

Namun pada Piala Dunia 2026, saya tidak antusias mendukung Argentina. Mungkin setelah melihat pertandingan dengan Mesir, yang menurut saya Argentina banyak diuntungkan oleh wasit. Ada dugaan Argentina di mana ada megabintang seorang GOAT Lionel Messi mendapatkan keistimewaan. Saya dengar juga komentar banyak orang, sepikiran dengan saya. Tapi, sekali lagi, tentu saja itu cuma perasaan seorang penggemar sepak bola yang awam. Mungkin juga termakan propaganda banyak pihak, terutama yang berseliweran di media sosial. Pikiran itu muncul karena cuma berharap sepak bola harus benar-benar fairplay, berlaga apa adanya di lapangan, tidak ada rekayasa di luar lapangan.
Sembari menikmati cappuccino hangat dan apple strudle, saya tak berani menunjukkan atensi berlebihan untuk Spanyol. Terkadang kami saling lihat sesama keluarga, khawatir orang-orang Peru akan marah melihat reaksi dukungan kami. Saya pikir rakyat Peru akan mendukung Argentina karena solidaritas tetangga. Sebaliknya menolak Spanyol mengingat ratusan tahun menjajah rakyat Amerika Latin. Dengan pikiran itu, saya sewajarnya saja saat memberi dukungan kepada Spanyol.
Namun saya perhatikan setiap bola yang ditembakkan ke gawang Argentina, terutama pelayan kafe, justru berteriak kecewa ketika bola berhasil ditepis penjaga gawang Emiliano Martinez. Wah, berarti mereka tidak mendukung Argentina. Maka ketika Ferran Torres melesakkan tembakan ke gawang Argentina di menit ke-106 yang mengubah skor menjadi 1-0 untuk Spanyol, saya tak ragu lagi, langsung lompat dari kursi sambil berteriak girang. Secara bersamaan, para pelayan kafe yang orang Peru pun ikut histeris. Seakan-akan sedang berada di tribun stadion New Jersey, Amerika Serikat.
Rivalitas, Arogansi, dan Stereotipe
Ada apa dengan Argentina? Mengapa tak mendapatkan hati pada sesama orang Latin? Sebetulnya aroma Argentina kurang didukung selama Piala Dunia 2026 sudah terdengar santer. Banyak warga Amerika Latin berharap Spanyol dapat menghentikan keperkasaan Argentina di partai final. Di masa lampau, mereka mendukung Argentina sebagai representasi negara Latin di ajang dunia. Belakangan dukungan itu makin berkurang.
Satu faktor yang bisa diajukan, boleh jadi soal rivalitas. Semua tahu Argentina adalah negara paling sukses sepak bolanya. Kalau Brasil tak bisa lagi mencapai puncak final Piala Dunia sejak tahun 2002, Argertina bahkan tiga kali berlaga di partai final sejak 2014 dan berhasil juara tahun 2022. Di Copa America juga Argentina mentereng. Selain itu, Messi menjadi roh sepak bola dunia yang melegenda, melampaui pemain-pemain Latin lainnya. Dengan begitu, di panggung dunia dalam batas-batas tertentu Argentina menjadi representasi Amerika Latin. Artinya Argentina sebetulnya menjadi kebanggaan orang Latin.
Namun, secara internal secara bersamaan terjadi rivalitas. Semula hanya di lingkungan dekat seperti Brasil, Chile, Uruguay tetapi kemudian meluas hingga ke Meksiko, Ekuador, Kolombia. “Karena tim kami lebih sering bermain melawan satu sama lain, para penggemar mulai saling memprovokasi,” ujar Nicolas Cabrera, sosiolog dan antropolog Argentina yang tinggal di Rio de Janeiro, Brasil, dalam 10 tahun terakhir, seperti dikutip The Guardian, 18 Juli 2026.
Di satu sisi menjadi representasi negara Latin, tapi justru menjadikan Argentina makin superior di kawasan. Negara-negara Latin lainnya memang sulit menandingi Argentina di lapangan sepak bola. Lalu kloplah dengan stereotipe yang selama ini dikenal di Amerika Latin. Misal, orang Meksiko dikenal penyuka makanan pedas. Orang Kolombia dikenal sebagai penari atau pengedar narkoba. Nah, orang Argentina dikenal arogan. Mereka lebih mengidentifikasi diri sebagai orang Eropa. Banyak warga Argentina mengutip ungkapan lama bahwa Amerika Selatan dimulai di Cordoba, Argentina utara. Cordoba adalah kantong orang kulit putih. Bayangkan seperti Afrika Selatan yang dihuni orang kulit putih di tengah benua hitam.
Identifikasi orang Argentina sebagai orang Eropa dapat ditelusuri ke masa-masa silam. Sampai era Perang Dunia I, Argentina dikenal cukup maju. Penduduknya mayoritas berpendidikan tinggi. Orang-orang Argentina berbondong-bondong pergi ke Eropa. Mereka menyekolahkan anak-anak ke Perancis, Inggris, dan Swiss. Gaya hidup mereka juga mirip orang Eropa. Pria-pria berpakaian ala pria Inggris, kaum wanita mengenakan busana kelas atas dari haute couture Paris. Mereka membangun teater Colon, gedung opera terbaik. Para cendekiawan mereka memiliki pergaulan luas di komunitas Eropa seperti London, Paris, Roma, bahkan hingga New York.
Ibu kota Buenos Aires digambarkan kota yang keren dan elegan. Sebagian seperti wajah Italia, sebagian lagi wajah Inggris. Sebagian seperti Perancis, sebagian lagi mirip Spanyol. Kata orang, Buenos Aires adalah Paris-nya Amerika Latin. Saya belum pernah ke Buenos Aires atau Argentina. Tapi saya mendapat gambaran tentang Argentina dan orang-orangnya dari menantu saya, orang Bolivia yang pernah tinggal dan menjadi warganegara Argentina (dwiwarganegara).

Penyangkalan Pribumi
Realita itu yang membuat Argentina seakan tercerabut dari akar rumput. Mereka menyangkal terkoneksi dengan unsur-unsur asli pribumi Amerika Latin. Seorang penulis Argentina, Jorge Luis Borges (1899-1986), mengatakan, “Kita beruntung karena kita tidak memiliki budaya asli apa pun, tidak ada cerita rakyat Indian yang patut dibicarakan,” sebagaimana diungkapkan Miguel Acoca dalam opininya di The Washington Post, 5 Juni 1982. Penyangkalan terhadap penduduk asli Indian menjadi narasi yang bertahan dalam benak warga Argentina.
Beda dengan negara-negara lain di Amerika yang merawat relasi dengan penduduk asli, orang-orang berkulit merah, Indian. Mexico dengan warisan Astec dan Maya, Peru dengan Inca, Bolivia dengan Ayamara, bahkan Brasil dengan kelompok budak dari Afrika, sebaliknya Argentina justru menonjolkan keeropaan dan merendahkan penduduk asli. Di AS, komunitas Argentina menolak disebut Hispanik, ogah disamakan dengan orang Puerto Rico, Meksiko, dan Kuba.
Sewaktu perang Argentina dan Inggris rebutan Pulau Malvinas (Falklands) tahun 1982, warga Buenos Aires ditanya tentang pandangan mereka terhadap perang, dan pernyataan yang sering dikutip adalah “Kami bukan orang Indian”. Rasa-rasanya rasisme sudah begitu sistemik. Sebab, orang Argentina merasa sebagai ras yang unggul, sebagai orang Eropa yang tangguh. Bakal tidak mudah dikalahkan Inggris, meskipun akhirnya menyerah. Dalam skala dunia, orang Argentina menolak pandangan bahwa Argentina berada dalam daftar negara Dunia Ketiga. Mereka mengklaim sebagai negara maju. Sebab, Argentina adalah kekuatan potensial di Amerika Latin dan dunia.
Gesekan di Amerika Latin
Keangkuhan orang Argentina menjadi titik panas di kawasan. Superioritas orang Argentina yang merasa “Eropa di tanah Amerika Latin” itu menjadi sumber gesekan rasial dengan negara-negara Amerika Latin lainnya. Penolakan orang Latin terhadap Argentina sudah terjadi lama, setidaknya terbaca lebih empat dekade silam. Dengan konteks ini dapat dibaca bagaimana berpalingnya dukungan negara Latin terhadap Argentina yang kembali menguat pada Piala Dunia 2026.
Baik pendukung maupun pemain Argentina melakukan gestur atau praktik rasisme, dengan memperagakan atau menyebut monyet pendukung atau pemain negara lain. Misalnya, pendukung Argentina kerap menghina pendukung negara lain, bahkan terhadap pendukung Brasil, tetangganya. Ketika merayakan kemenangan Argentina terhadap Inggris, ada turis Argentina membuat gerakan monyet kepada warga Brasil (berkulit hitam). Dilaporkan dalam beberapa bulan terakhir sejumlah turis dari Argentina ditangkap di Brasil karena “penghinaan rasial”.
Seorang YouTuber asal AS, IShowSpeed, juga menjadi korban pelecehan rasialis ketika menonton pertandingan Argentina vs Tanjung Verde dan Argentina vs Mesir. Insiden tersebut kabarnya diinvestigasi FIFA, sebab sepak bola haruslah bersih dari noda-noda kebusukan. Di Atlanta, setelah Argentina secara dramatis mengalahkan Mesir, ada pendukung Argentina mengejek dan melempari bir ke pendukung Mesir. Di sebuah bar, pada 3 Juli 2026, kontributor Santiago Ospina Celis menulis di New Line Magazine (10/7/2026), sewaktu bersama pendukung Kolombia yang sempat menonton pertandingan Argentina vs Tanjung Verde, diteriaki “boludos” (idiot) oleh pendukung Argentina setelah mereka berteriak histeris ketika sepakan Sidney Lopes Cabral menjebol gawang Argentina.
Pada tahun 2024 ketika Argentina mengalahkan Kolombia 1-0 di final Copa America, pemain Argentina Enzo Fernandez — yang pada pertandingan final Piala Dunia 2026 diganjar kartu merah — menyiarkan nanyian para pemain Argentina secara live di Instagram yang dinilai rasis dan diskriminasi kepada pemain Perancis, karena menyebut orang tua mereka berasal dari Afrika tapi membela Perancis. Kasus ini bertuntut panjang, yang mendapat komentar pedas dari sesama pesepak bola. Pemerintah Argentina sampai memohon maaf kepada Perancis.
Pada Piala Dunia 2026 ini, seorang jurnalis sayap kanan Argentina terus terang mengatakan sangat membenci orang Meksiko. Ia mengomentari pertandingan antara Meksiko vs Ekuador di Mexico City, bahwa para pemain Ekuador bermain dalam ketakutan setelah diduga “diancam dengan kematian” oleh kartel narkoba Meksiko. Komentar itu sampai direspons Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, yang menyebutkan pernyataan itu sangat keterlaluan.
Era media sosial memang suara apa saja bisa lantang. FIFA mengidentifikasi ribuan unggahan bernada pelecehan. Selama pertandingan fase gurup tercatat lebih dari 89.000 uanggahan pelecehan, naik 13 kali lipat dibanding Piala Dunia di Qatar 2022. Dari ribuan uanggahan itu, 11 persen di antaranya adalah unggahan pelecehan rasial. Tak heran juga, terutama di TikTok dan Instagram, ditemukan juga unggahan tandingan yang menolak Argentina: “América Latina menos Argentina” (Amerika Latin tanpa Argentina).
Panggung Palestina vs Israel
Kasus-kasus pelecehan, termasuk rasialis di pesta olahraga seperti Piala Dunia memang bukan sesuatu yang baru. Dan, di mana-mana terjadi. Tetapi mengapa Argentina sepertinya secara terorkestrasi tak dapat dukungan publik Latin? Tentu saja fakta-fakta dan stereotipe di atas dapat bermain dalam propaganda penolakan terhadap Argentina. Terlebih lagi sekarang ini makin kompleks ditambah dengan dampak konstelasi politik global terhadap konflik di Timur Tengah.
Dalam dunia yang terbelah, kita tahu pemerintah Argentina di bawah Presiden Javier Milei yang berkuasa sejak 2023 jelas-jelas mendukung Israel. Sampai ada yang memberi cap “Argentina adalah Israel-nya Amerika Latin”. Argentina termasuk di antara 10 negara yang menolak Palestina merdeka, bersama Amerika Serikat, Israel, Hungaria, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Niugini, Paraguay, dan Tonga. Di Piala Dunia, beberapa warga Argentina membentangkan bendera Israel. Dalam sejarahnya, Argentina menjadi tempat suaka bagi imigran dari berbagai negara seperti Italia, Spanyol, Perancis, Polandia, Yugoslavia, Irlandia, juga Yahudi Eropa Timur dan Sephardi dari Iberia yang mencari tempat tinggal.
Sikap Argentina yang mendukung Israel itu bersebarangan dengan mayoritas negara di dunia yang menghendaki Palestina merdeka. Sebanyak 157 negara dari 193 negara atau teritori anggota PBB (81 persen) memberi dukungan agar Palestina merdeka. Tak heran, di lapangan sering terjadi kekisruhan antara pendukung Argentina dengan pendukung tim lain. Di partai final, yang terlihat bukan saja pertandingan sepak bola secara kasat mata, tetapi pertarungan antara pendukung Israel dan pendukung Palestina. Kita tahu bahwa Spanyol di bawah Perdana Menteri Pedro Sanchez yang berkuasa sejak tahun 2018 sangat tegas memberi dukungan kepada Palestina, sebaliknya mengultimatum Israel. Berbagai aksi unjuk rasa masif digelar di kota-kota di Spanyol untuk memberi dukungan kepada Palestina.
Memang, sepak bola adalah perhelatan yang sportif, harus lepas dari kepentingan politik, netral. Tetapi sepak bola juga tidak berada di ruang hampa. Stadion, bahkan FIFA dan rezim dunia sekalipun tidak bisa membendung masifnya media sosial. Apalagi mengekang pikiran-pikiran miliaran penduduk dunia. Dalam arus putaran sejarah, sembari menyeruput sisa-sisa cappuccino hangat di lantai 2 kafe di kota Lima, Peru, saya happy ketika Spanyol menang, tanpa harus merendahkan Argentina, idola saya sejak masa kanak-kanak, yang kini saya saksikan langsung menjadi common enemy di “kampung sendiri”.