Jangan mati dulu sebelum ke Sumba! Pulau Cendana nan eksotik, unik, dan ikonik. Bayangkanlah padang sabana dengan ilalang melambai-lambai terempas derap kaki sekawanan kuda yang berlarian, perbukitan cantik berlapis-lapis, air terjun bening dan dingin, serta pantai-pantai yang tenang dan sunyi. Di Sumba, semua terawat: kampung adat, mahakarya tenun, upacara adat, dan spiritualitas. Sumba menjadi tempat terakhir di Bumi yang melanggengkan tradisi Megalitik hingga era modern. Orang Sumba membuat kubur batu pada waktu yang sama mereka juga asyik bermedsos: ngobrol di-Whatsapp; mencuit di X; mengunggah cerita atau foto di Instagram, Facebook, Tiktok, atau YouTube. Sumba belum berhenti menuliskan sejarahnya.
Don’t die before you’ve been to Sumba! Cendana Island is exotic, unique, and iconic. Imagine savannah grass-lands swaying as herds of wild horses thunder across them, beautiful layered hills, clear waterfalls, and quiet beaches. In Sumba, everything is preserved: traditional villages, the masterpiece of ikat weaving, sacred rituals, and spirituality. Sumba is the last place on Earth that still keeps the Megalithic tradition alive into the modern era. The people of Sumba build stone graves and at the same time also chatting on WhatsApp, tweeting on X, or posting stories and photos to Instagram, Facebook, TikTok, or YouTube. Sumba hasn’t finished writing its history yet.
“Saya menyambut baik terbitnya buku Sumba: The Last Living Megalithic Culture. Kiranya judul buku ini sangat pas, boleh jadi tersisa tinggal di Sumba, tradisi megalitik yang ribuan tahun silam masih berlangsung hingga zaman digital sekarang ini. Kubur batu dan upacara penguburan, yang merupakan tradisi batu besar Zaman Megalitikum, masih lestari di Sumba. Kebudayaan Sumba bertahan melampaui periodesasi sejarah. Tak lekang diterjang panas dan tak lapuk diguyur hujan.
Sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur di mana Sumba merupakan salah satu pulau terindah di wilayah NTT, tentu saya merasa bangga, karena orang Sumba terus merawat peradaban lama ketika di banyak masyarakat atau komunitas di dunia telah punah. Uniknya lagi, Sumba memiliki warna alam yang berbeda dibanding banyak daerah lain. Padang sabana luas dan kuda-kuda sandel berlarian di tengah ilalang kering adalah momen ikonik, dan itu identik dengan Sumba.
Jika menyusuri terus, kecantikan alami tanah Sumba akan melenakan pengunjung, ketika bukit-bukit hijau berlapis-lapis, pantai-pantai cantik dengan pasir putih dan deburan ombak samudera, air terjun menawan yang sangat jernih. Bukan cuma kecantikan lahiriah, tapi spot-spot indah itu memberikan keaslian dan keasrian yang belum terusik atau tereksploitasi oleh manusia, ketika di banyak wilayah sudah terasa sumpek.” – Emanuel Melkiades Laka Lena, Gubernur NTT
- Judul: Sumba: The Living Megalithic Culture
- Pengarang: Arbain AW Rambey, Johnny TG, M Subhan SD
- Pengantar: Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena
- Jenis : Buku foto full color
- Bahasa: Dwibahasa (Indonesia-Inggris)
- Tahun: 2026
- Sampul: hardcover
- Tebal: xvi + 200 hlm.
- Kertas: Mattepaper
- Ukuran: 20 x 26 cm


Ulasan
Belum ada ulasan.