Dari pinggir kekuasaan, kita menyaksikan satu pola berulang: kekuasaan yang lupa diri, hukum yang dipersonali-sasi, rakyat yang terpinggirkan, dan sejarah yang diperebutkan. Semua itu bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan gejala dari satu kondisi yang lebih dalam: demokrasi yang berjalan, tetapi kehilangan etika pengikatnya.
Inilah yang disebut sebagai keadaan tintrim — tidak benar-benar gelap, tetapi jauh dari terang. Negara tetap bekerja, institusi tetap ada, pemilu tetap berlangsung. Namun kepercayaan menipis, empati mengering, dan kritik sering dianggap gangguan — bukan koreksi — yang harus ditertibkan.
Di sinilah jurnalisme diuji, bukan sebagai profesi, tetapi sebagai sikap. Menulis dari pinggir kekuasaan berarti memilih posisi yang tidak nyaman. Ia bukan tempat yang terang. Ia bukan panggung utama. Di pinggir, kita melihat sesuatu yang sering luput dari pusat: suara yang tidak diundang, fakta yang tidak populer, kegelisahan yang tidak sempat menjadi headline. Menulis dari pinggir adalah upaya kecil untuk meretakkan persetujuan yang sudah dibentuk rapi.
“Dengan gerundelan intelektual yang merefleksikan pergolakan pemikiran Indonesia dari berbagai aspeknya, Budiman Tanuredjo tampaknya memiliki suatu keyakinan dan harapan bahwa Indonesia tetap layak untuk dicintai dan diperjuangkan” – Sukidi
“Esai-esai Budiman dalam bu-ku ini sama sekali tidak berlagak muluk. Apa yang ia tulis dengan jujur dari pinggir bukan untuk mendidik kekuasaan. Ia mengusik nalar dan nurani pembaca dengan sebuah pertanyaan yang sulit kita tepis kalau kita mau bergerak ke depan. Apa sesungguhnya yang dapat kita pelajari dari kekuasaan yang lupa diri, dari luka kemanusiaan yang mau dikubur, dari daya cengkeram militer yang menguat, dan hukum yang direndahkan di bawah kepentingan pribadi?” – Karlina Supelli
- Judul: Dari Pinggir Kekuasaan
- Pengarang: Budiman Tanuredjo
- Pengantar: Sukidi & Karlina Supelli
- Tebal: xxxiv + 159
- Ukuran: 14×20 cm
- Kertas: Bookpaper
- Tahun: 2026



Ulasan
Belum ada ulasan.