Kolom
Tikus-tikus Koruptor
Try Harijono
Tikus memang rakus. Apa saja dieratnya. Tidak peduli barang tersebut berharga atau tidak, jika ada di depan mata, pasti dilahapnya. Jangankan bahan makanan, barang keras seperti kayu, plastik, sepatu, kabel, bahkan buku pun diembatnya. Tak punya rasa belas kasihan. Tak ada rasa puasnya.
Tikus mengerat terkadang sembunyi-sembunyi, tetapi sering pula terang-terangan. Terkadang berkelompok, tetapi sering pula satu individu. Seolah tak punya rasa takut, dan tak punya rasa malu. Sangat menyebalkan. Penampilannya pun bikin enek dan menjijikkan. Matanya jelalatan, perut buncit, dan gigi terkadang menyeringai menakutkan. Jauh dari kesan lucu, lincah dan cerdas seperti dalam film Mickey Mouse. Kerakusan tikus sering menjadi simbol buat koruptor. Sampah masyarakat ini identik dengan sikap rakus, licik, tak punya rasa puas, malu, dan tak punya rasa takut. Persis seperti tikus.

Hari Anti Korupsi Sedunia diperingati setiap 9 Desember. Namun nyatanya, hanya sekadar peringatan. Nyaris tak ada dampaknya sama sekali. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) misalnya, belum lama melakukan operasi tangkap tangan dan menangkap Bupati Pati Sudewo karena dugaan korupsi jual beli jabatan. Sebelumnya KPK juga menangkap Wali Kota Madiun Maidi karena dugaan korupsi fee proyek. Di kementerian, sejumlah menteri juga ditangkap KPK bahkan sudah divonis pengadilan. Artinya korupsi ada di mana-mana. Persis seperti tikus. Bukan cuma di permukiman, tetapi juga ada di gudang, ladang, sawah, sekolah, hingga perkantoran dan bahkan kementerian.
Pelaku korusi tidak semakin sedikit, justru semakin banyak dan meluas di mana-mana. Muncul pelaku-pelaku baru dengan modus operandi korupsi yang semakin canggih, piawai, licik dan kini bahkan terang-terangan. Meski sudah banyak yang dihukum, koruptor tak pernah merasa jera. Jumlah koruptor terus bertambah dan usianya semakin muda. Persis seperti tikus yang terus berkembang biak seperti tak ada habisnya. Tikus sudah ada sejak zaman purba dan terus beranak pinak hingga kini.
Elizabeth L. Green, seorang ilmuwan biologi yang menjadi editor utama buku klasik The Biology of the Laboratory Mouse (1966) menyatakan, tikus sulit diberantas karena reproduksinya sangat cepat. Edward F. Adolph yang menjadi editor buku terkenal Reproductive Biology of the Mouse (1956) dan terbit di New York, Amerika Serikat, menyatakan hal serupa. Sejak dilahirkan, pada pada usia 7-9 minggu kemudian atau tak sampai usia tiga bulan, tikus sudah siap kawin.
Setelah terjadi pembuahan, masa gestasi atau kehamilan tikus, hanya butuh waktu 19-21 hari saja, atau tak sampai sebulan, seekor tikus sudah bisa melahirkan. Sekali beranak bisa 6-12 ekor. Hebatnya lagi, hanya dalam waktu 24-48 jam setelah melahirkan, seekor tikus bisa kembali hamil!. Tak heran jika dalam waktu setahun, seekor tikus bisa 5-10 kali beranak, tergantung kondisi lingkungannnya. Artinya, dari seekor tikus bisa lahir sekitar 30-120 ekor anak tikus kecil dan berwarna kemerahan.
Perlu dicatat pula, setiap anak tikus tersebut, pada usia sekitar dua bulan, sudah memasuki masa kawin. Sebulan kemudian melahirkan lagi. Begitu seterusnya sehingga tikus sangat cepat berkembang biak. Populasinya bisa meledak dalam satu kawasan, karena dari seekor tikus bisa lahir ratusan anak tikus. Padahal, usia hidup tikus cukup panjang, bisa 1-3 tahun tergantung spesies dan lingkungan hidupnya.
Di perkotaan, usia tikus rumah (Mus musculus) bisa panjang karena nyaris tidak ada hewan predator. Kucing sebagai predator alami, ogah menyantap tikus yang aromanya bau, ukurannya besar, kotor dan terkadang lebih galak dari kucing. Tikus rumah dan tikus got di perkotaan pun bergerak leluasa, apalagi makanan tersedia melimpah, setidaknya di tempat-tempat sampah. Risiko paling besar, tikus rumah nekat nyebrang jalan, kemudian mati terlindas kendaraan.
Tikus sawah (Rattus norvegicus) juga bisa berumur panjang, karena predator alaminya seperti ular dan burung hantu justru dibunuh manusia. Tikus hutan (Apodemus sylvaticus) yang kini sedikit waswas, karena justru habitat alaminya dirambah dan dirusak manusia. Masih banyak lagi spesies tikus lainnya dengan karakteristik yang beragam. Tidak mungkin diulas satu per satu, karena di Bumi ini terdapat setidaknya 570 spesies tikus dengan keunikan masing-masing. Di kawasan Asia, setidaknya terdapat sekitar 250 spesies tikus.

Selain spesiesnya sangat banyak, populasinya juga sangat melimpah. Sejauh ini Chicago di Amerika Serikat yang disebut sebagai kota dengan populasi tikus terbanyak di dunia. Jumlah tikus di Chicago diperkirakan lebih banyak dari jumlah penduduk Chicago yang berdasarkan Sensus 2020, berjumlah 2,74 juta jiwa. Di New York pun sama saja, populasi tikus diperkirakan lebih banyak dari jumlah penduduk kota.
Robert Sullivan, dalam bukunya Rats: Observations on the History and Habitat of the City’s Most Unwanted Inhabitants (2004) berpendapat bahwa tikus adalah cermin dari peradaban manusia modern. Penulis asal Amerika Serikat yang tulisannya banyak melakukan pendekatan antropologi ini menyatakan, tikus menjadi indikator ekologi dan sosial. Keberadaan tikus menggambarkan manusia di suatu kawasan mengelola kebersihan, penduduk miskin dan ruang kota. Kawasan padat penduduk yang menghasilkan banyak sampah dan kotor, sangat disukai tikus. Sampah menjadi salah satu sumber makanan mereka.
Meski demikian, sampah bukan satu-satunya sumber makanan tikus. Di perkotaan, tikus dengan gesit masuk ke lubang got, naik ke atap rumah, atau melintasi gang sempit, bersembunyi lalu mengerat apa pun yang mereka temukan. Tikus juga masuk ke rumah-rumah penduduk, gedung bertingkat hingga perkantoran. Tikus melahap apa pun, termasuk berkas dan dokumen di perkantoran.
Tikus tidak peduli dokumen tersebut sangat penting dan berharga. Yang diketahui tikus setiap hari cuma makan, mengerat, makan dan makan. Sangat menyebalkan. Itulah tikus yang rakus…
Try Harijono, Wartawan Senior