Peristiwa, Topik Pilihan, Utama
Palmerah Bookstore, Bukan Sekadar Toko Buku
Palmerah.online – Mulanya adalah ide. Ide ibarat awan berarakan di langit biru. Ide ibarat air yang mengalir di sela-sela bebatuan dan akar-akar pohon. Ide ibarat oksigen yang dihirup dan mengalir di dalam aliran darah. Tak heran bila filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650) bilang cogito ergo sum, bahwa “aku berpikir maka aku ada”.
Ide yang dirangkai dalam bentuk kata-kata dapat diwujudkan dalam bentuk buku. Dan, buku adalah cerita evolusi sangat panjang sejak dari lempengan tanah liat Sumeria sekitar tahun 3500 SM, gulungan papirus Mesir (2500 SM), codex Romawi (abad ke-1 Masehi), cetakan kertas sederhana di China (abad ke-1 M), dan secara massal saat Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak tahun 1450 di Jerman, hingga hari ini di tahun 2026 sampailah di Palmerah Bookstore di Marchand Hype Station Bintaro, sebuah kios kecil yang berupaya menyimpan ide-ide besar. Menurut Kepala Palmerah Bookstore, Try Harijono pada saat opening, Sabtu, 10 Januari 2026, Palmerah Bookstore adalah langkah untuk menggerakkan literasi.
Palmerah Bookstore adalah etalase kedai buku Penerbit Palmerah Syndicate, penerbit indie yang terus berlayar di samudera digital. Sejak 2023 Palmerah Syndicate telah menerbitkan 11 buku. “Anda punya ide, kami bantu mewujudkan menjadi buku” kira-kira begitu semangat Palmerah Syndicate yang mencoba untuk terus merawat agar buku tidak dilupakan di era disrupsi digital sekarang ini. Maka, jangan hentikan kebiasaan membaca. Karena, membaca adalah cara merawat nalar agar tetap sehat. Dan, teruslah menulis. Karena menulis adalah salah satu jalan untuk membangun peradaban.
Pepatah populer menyatakan, “buku adalah jendela dunia”. Kita boleh beralih ke digital, tetapi jangan tinggalkan buku. Sebab, kata novelis Amerika Ernest Hemingway (1899-1961), “tidak ada teman sesetia buku”. Tanpa buku, kita sesungguhnya terlepas dari tonggak-tonggak penunjuk arah. Kata filsuf Yunani Cicero (106 SM-43 M), “ruangan yang tanpa buku ibarat tubuh yang tak berjiwa”. Dan, di ruangan kecil ini, di Palmerah Bookstore, di Palmerah Syndicate, jiwa-jiwa kreatif dapat terus dibangun agar kecintaan pada buku dapat terus dirawat. (P5)