Palmerah.online

Buku adalah Bentuk Pertanggungjawaban

Redaksi Palmerah

“Panggil Saya Tommy” adalah memoar Duta Besar RI untuk Singapura (2020-2025) Suryopratomo. Nama panggilannya justru menjadi “nama resmi”  di kalangan koleganya sesama duta besar, bahkan hingga di level perdana menteri dan presiden Singapura. Hal itu menandakan bahwa Suryopratomo begitu dekat bahkan dalam konteks hubungan formal sekalipun. Buku “Panggil Saya Tommy” pun diluncurkan di acara peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Ballroom Hotel Aston, Serang, Minggu, 8 Februari 2026.

Suryopratomo berfoto bersama sejumlah tokoh pers di antaranya Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria, Ketua PWI Akhmad Munir, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat, dan para wartawan senior lainnya, seusai penyerahan buku yang berlangsung di Hotel Aston, Serang, Sabtu, 8 Februari 2026. Redaksi | Palmerah.Online

 

Buku Panggil Saya Tommy menjadi satu dari tujuh buku yang diperkenalkan kepada publik jelang HPN 2026 di Ballroom Hotel Aston, Kota Serang, Minggu (8/2/2026). Buku ini memuat catatan pengalaman Suryopratomo selama lebih dari lima tahun menjalankan tugas diplomatik di Singapura, sebuah periode yang berlangsung di tengah dinamika global yang kompleks, termasuk krisis pandemi COVID-19. Judul Panggil Saya Tommy lahir dari kebiasaan sederhana, namun sarat makna relasi personal dalam diplomasi. “Di Singapura, saya lebih sering dipanggil Tommy. Itu mencerminkan pendekatan yang cair dan setara, dan dari situlah judul buku ini muncul,” ungkap Suryopratomo yang pernah bertugas sebagai wartawan Kompas dan Metro Tv ini. Ia menjelaskan, buku tersebut ditulis sebagai bentuk pertanggungjawaban pribadi atas amanah negara yang diembannya di luar negeri. “Saya berangkat di masa pandemi, situasinya tidak mudah. Buku ini menjadi catatan bagaimana tanggung jawab itu dijalankan,” ujarnya.

Lebih jauh, buku ini memperlihatkan konsistensi seorang wartawan yang tidak pernah melepaskan tradisi menulis, meski perannya bergeser dari ruang redaksi ke panggung diplomasi. “Menulis membantu saya berpikir terstruktur dan strategis. Selama menjadi duta besar, saya tetap menulis secara rutin. Kalau berhenti, ritmenya akan hilang,” tegasnya. Dalam kesempatan tersebut, Suryopratomo juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia pers saat ini. Menurut Tommy, derasnya informasi dan tekanan ekonomi media hanya bisa dihadapi dengan peningkatan kualitas dan profesionalisme jurnalistik. “Kita sedang berada di era banjir informasi. Satu-satunya cara bertahan adalah menjaga mutu dan integritas karya,” katanya.

Suryopratomo saat berbicara kepada peserta yang hadir di acara peluncuran bukunya. Redaksi | Palmerah.Online

 

 

Pembicara yang memberi testimoni dalam peluncuran buku itu adalah Don Bosco Selamun (wartawan senior, pendiri Tutur Media Digital),, Marlisa Wahyuningsih (mantan homestaff KBRI di Singapura), Hisyaamuddin bin Abu bakar (Country Head Southeast Asia & Pacific International Business Division), dipandu oleh Subhan SD (editor buku). Redaksi | Palmerah.Online

 

Suryopratomo tengah membubuhkan tanda tangan di bukunya. Redaksi | Palmerah.Online

Dalam peluncuran buku yang diterbitkan oleh peenerbit Palmerah Syndicate itu, hadir para tokoh pers dari berbagai daerah, juga Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria. Pembicara yang memberi testimoni adalah Marlisa Wahyuningsih (mantan homestaff KBRI di Singapura), Hisyaamuddin bin Abu Bakar (Country Head Southeast Asia & Pacific International Business Division), Don Bosco Selamun (wartawan senior pendiri Tutur Media Digital), dan dipandu oleh Subhan SD (editor buku, Palmerah Syndicate). Sebagai wartawan, Suryopratomo mampu menuliskan persoalan kedua negara/bangsa (RI dan Singapura) begitu baik dan ringan dibaca. Sebagai dubes, ia berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan di antara kedua negara secara tuntas. Retno Marsudi, Menlu 2014-2024, dalam pengantarnya di buku menulis, “Mas Tommy berhasil menjalankam tugasnya dengan sangat baik. Saya sengaja ingin mengulang bahwa kinerja beliau sebagai sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Singapura sangatlah baik.” Gaya kepemimpinannya pun luwes, tidak suka birokratis, egaliter, sehingga relasinya begitu banyak ke semua lapisan sosial; yang diakui oleh ketiga pembiacara. “He is loved by everybody,” tambah Retno Marsudi.

Buku Panggil Saya Tommy menjadi penegasan bahwa meski wartawan dapat menempuh beragam peran di luar profesi jurnalistik, tanggung jawab menulis dan merawat ingatan kolektif bangsa tetap melekat sepanjang hayat. Selain edisi bahasa Indonesia, buku tersebut juga diterbitkan dalam versi bahasa Inggris, Call Me Tommy, yang tentu saja untuk konsumsi masyarakat atau kolega Tommy di Singapura. (Red/*/P5)

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku