Isu Aktual, Topik Pilihan, Utama
Imlek, Perjalanan Panjang Etnis Tionghoa di Negeri Ini
Tahun 2026 ini Imlek 2577 dirayakan pada Selasa tanggal 17 Februari 2026. Nuansa serba merah mencolok menyambut kedatangan Imlek. Suasananya sudah terasa dan terlihat di mana-mana. Komunitas Tionghoa berhias rumah dan memasang dekor dengan hiasan warna merah. Di area publik hingga ke pusat-pusat perbelanjaan sudah berhias nuansa Imlek. Semua orang dapat menikmati kemeriahan Imlek.

Suasana perayaan Imlek yang meriah di tempat-tempat umum itu punya cerita panjang. Di negeri ini perayaan Imlek digelar secara terbuka sudah lebih dua dekade ini. Bahkan Imlek menjadi tradisi budaya yang dinikmati semua orang. Imlek tidak lagi dirayakan terbatas, sembunyi-sembunyi, atau diam-diam. Di komunitas Tionghoa atau di mal-mal, sering digelar perayaan Imlek, terutama dengan pementasan barongsai. Sudah menjadi agenda rutin perayaan Imlek diselenggarakan di pusat-pusat perbelanjaan, seperti event sambut Ramadan-Idul Fitri atau Natal.
Kemeriahan perayaan Imlek lebih 20 dekade ini cukup panjang ceritanya, penuh tragedi dan ironi. Sejak pemerintahan Orde Baru berkuasa di bawah Presiden Soeharto diterbitkanlah Inpres Nomor 14 Tahun 1967 Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China pada 6 Desember 1967. Dengan Inpres itu upacara agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga, di ruangan tertutup, tentunya terbatas. Jadi selama era Presiden Soeharto, komunitas Tionghoa melakukannya secara diam-diam Dan tersembunyi. Dasarnya tak beralasan, kecuali alasan politik.
Aturan ini tentu tak bisa dilepaskan dengan peristiwa G 30 S yang menurut Orde Baru didalangi oleh PKI. Di bawah pemerintahan Soekarno, sekitar dekade 1960-an, hubungan RI dan RRC sangat dekat. Politik Indonesia memang condong ke China. Kala itu Indonesia anti-Barat, anti-Amerika Serikat. Indonesia menolak imperialisme Barat. Indonesia menolak kapitalisme. Soekarno menjadi sosok yang tidak tunduk kepada dominasi Barat.
Jika memusuhi Barat, pastilah berteman dengan lawan-lawan mereka. Uni Soviet (kini Rusia) dan kemudian China, menjadi teman dekat Indonesia di bawah Soekarno. Bahkan dalam beberapa gerakan global, terjadi aliansi kekuatan. Kala itu relasi Jakarta-Moskwa-Peking (kini Beijing) menjadi politik perlawanan terhadap Barat. Bahkan paling dikenal poros Jakarta-Peking-Pyongyang. Sering dilukiskan sebagai bentuk politik Orde Lama yang kekiri-kirian (komunisme). Uni Soviet dan China adalah dua negara yang menjadi basis komunisme.
Dampak politik Orde Lama, mengakibatkan sentimen China menguat pasca peristiwa tahun 1965. Semua hal berbau China (dalam hal ini Tionghoa) tidak bebas dibicarakan. Ada pembatasan. Orang Tionghoa tidak boleh lagi bebas beraktivitas. Terutama di panggung politik, mereka dilarang. Barangkali hanya bidang ekonomi yang diperbolehkan, yang pada akhirnya melahirkan konglomerat-konglomerat yang tetap di bawah kendali penguasa Orde Baru. Sebagai konsekuensi pelarangan itu, segala bentuk bidaya Tionghoa pun tidak boleh dilakukan terbuka, termasuk Imlek.
Padahal Imlek sudah ditetapkan sebagai hari besar resmi bagi warga Tionghoa, setelah proklamasi kemerdekaan. Presiden Soekarno menetapkan hari besar Imlek melalui Penetapan Pemerintah 1946 No. 2/Oem. Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama itu menyebutkan hari raya orang Tionghoa, meliputi Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu pada tanggal 18 bulan 2 Imlek, Ceng Beng (ziarah kubur), dan hari lahirnya Khonghucu pada tanggal 27 bulan 2 Imlek. Namun, begitu Soekarno jatuh, Soeharto melarang semua kegiatan yang berbau Tionghoa.
Tidak lagi sembunyi-sembunyi
Etnik Tionghoa, walaupun orang Indonesia sejak lahir, keterikatan dengan budaya leluhurnya sangat kuat. Dan, itu terjadi di mana-mana. Sekitar 31 tahun, orang-orang Tionghoa tidak bebas mengekspresikan budayanya. Di bawah pemerintahan Orde Baru, tidak ada yang berani melanggar peraturan pemerintah. Hak politik orang Tionghoa dipangkas, hanya hak ekonomi yang dipelihara. Selamat periode itu banyak dijumpai praktik-praktik diskriminasi terhadap komunitas tertentu.
Kondisi tersebut berubah total ketika terjadi reformasi tahun 1998. Presiden Soeharto tumbang oleh gerakan mahasiswa dan rakyat. Pemerintah Orde Baru digantikan Orde Reformasi. Di bawah Presiden BJ Habibie, diterbitkanlah Inpres No. 26 Tahun 1998 yang membatalkan aturan-aturan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa. Bukan hanya itu, istilah pribumi dan nonprobumi yang normal digunakan dalam konteks penyelenggara pemerintah pun dihentikan karena dianggap diskriminatif.

Langkah tersebut menjadi titik terang. Jalan semakin lebar ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerbitkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 pada 17 Januari 2000. Presiden Gus Dur memang dikenal sebagai presiden yang membuka katup-katup kesetaraan. Dengan pencabutan Inpres itu, masyarakat Tionghoa kembali menemukan jalan untuk merayakan imlek secara terbuka. Tidak ada lagi ketakutan merayakan Imlek secara terbuka. Masyarakat Tionghoa kembali mendapatkan kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan, dan menjalankan adat istiadatnya termasuk merayakan upacara-upacara agama secara terbuka. Gus Dur memang sosok yang menganjurkan keberagaman dan kebhinekaan. Ia dinilai figur paling berjasa di balik eksistensi komunitas Tionghoa. Dengan keputusannya membuat komunitas Tionghoa tidak lagi diam-diam menjalankan tradisi dan kepercayaannya.
Dan, itu pula kita dapat melihat perayaan Imlek, atau pementasan barongsai terselenggara di mal-mal. Tahun Baru Imlek pun kemudian ditetapkan sebagai libur nasional fakultatif melalui Keputusan Menteri Agama No 13 tahun 2001 pada 19 Januari 2001. Artinya hari libur ditetapkan oleh instansi atau pemerintah daerah bukan keputusan pemerintah pusat. Imlek menjadi hali libur nasional setelah Presiden Megawati Soekarnoputri memgeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 pada 9 April 2002. Alasannya bahwa kegiatan agama atau kepercayaan merupakan hak asasi manusia, selain sebagai tradisi sudah berlangsung secara turun temurun sejak lama. Sejak itu, Imlek dirayakan terbuka di seantero negeri. (Red/P5).