Internasional, Peristiwa
Epstein Files: Dokumen Kejahatan Kemanusiaan
Epstein Files menjadi skandal politik dan kemanusiaan yang mengguncang dunia. Skandal kejahatan yang melibatkan Jeffrey Epstein berisi jutaan dokumen terungkap ke publik begitu Departmen Kehakiman Amerika Serikat merilis “Epstein Files” sesudah mendapat persetujuan dari The House of Representatives (DPR) Amerika Serikat pada 18 November 2025. Keesokam harinya giliran Presiden Donald Trump meneken rancangan undang-undang yang menjadi Undang-Undang Transparansi Dokumen Epstein. Dokumen itu berisi penyelidikan dan pengadilan terkait kejahatan Epstein, terutama kejahatan seksual terhadap anak-anak dan pedagangan manusia.

Yang bikin geger karena dokumen itu menyebut para pemimpin dunia, tokoh-tokoh politik dan pesohor, seperti Presiden AS Donald Trump, mantan Presiden AS Bill Clinton, pengusaha Elon Musk, para selebritas top dunia dan para politikus di banyak negara. Tokoh-tokoh top dunia itu terpampang wajahnya saat dokumen itu mulai dirilis pada 19 Desember 2025. Pada 23 Desember 2025, Departemen Kehakiman merilis dokumen berisi 30.000 halaman lagi, berisi surat elektronik (email), catatan pengadilan, dan juga foto-foto lain. Ada catatan perjalanan Donald Trump dengan Epstein menggunakan jet pribadinya yang terjadi sekitar 1990-an. Menunjukkan Epstein memiliki kedekatan dengan Presiden AS yang kontroversial itu.
Pada 30 Januari 2026 Departemen Kehakiman merilis kembali “Epstein Files”. Kali ini jumlahnya sangat spektakuler, yaitu sekitar 3 juta halaman. Catatan penyidikan dan fakta-fakta di persidangan di pengadilan ini memuat dokumen email, 180.000 foto, 2.000 video. Jumlah dokumen yang bejibun itu jumlahnya, menurut Todd Blanche, Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, adalah perilisan “Epstein Files” yang terakhir. Semua mata tertuju kejahatan Epstein. Satu persatu publik disuguhkan dengan bukti-bukti kejahatan Epstein. Kita dapat menonton serial Jeffrey Epstein: Filthy Rich yang ditayangkan Netflix. Pengakuan perempuan-perempuan korban kejahatan seksual Epstein sangat mengenaskan. Kita menyaksikan betapa mereka tak berdaya terhadap Epstein, bahkan pada awalnya mereka merasa tidak dilindungi oleh negara (AS).
Relasi dengan tokoh-tokoh dunia
Jeffrey Edward Epstein adalah sosok miliarder berkebangsaan Amerika Serikat. Ia lahir di Brooklyn, New York 20 Januari 1953. Pada awalnya di pertengahan 1970-an ia berkarier sebagai guru, tapi dipecat pada tahun 1976. Lalu ia terjun ke dunia bisnis keuangan dan perbankan, sampai ia mendirikan perusahaan sendiri. Dalam perjalanan bisnisnya, relasinya menjangkau ke banyak kalangan, hingga ke kalangan elite, baik di pemerintahan, pengusaha, lingkungan selebritas, dan banyak pemimpin dunia. Kekayaan Epstein diduga diperoleh dengan menyediakan layanan pajak dan estat bagi para pengusaha dan orang-orang kaya. Dalam lingkaran elitenya, Epstein juga menyediakan 1.000 gadis di bawah umur, remaja, dan wanita muda. Mereka menjadi sasaran kekerasan seksual oleh Epstein dan rekan-rekannya.
Berdasarkan dokumen-dokumen terunghkap bahwa Epstein memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh publik. Tentu ada Donald Trump, Elon Musk, Bill Clinton, Bill Gates, Ehud Barak, Pangeran Andrew, dan masih seabreg lagi nama-nama tokoh publik di Amerika Serikat dan dunia. Tentu bantahan bersliweran, walaupun tak bisa menghapus fakta-fakta di dokumen tersebut. Misalnya, Trump membantah pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein.
Selain nama-nama yang diduga punya hubungan dekat, dokumen tersebut juga menyebut nama-nama tokoh publik di berbagai negara dalam korespondensi dengan pihak lain. Misalnya nama PM India Narendra Modi, PM Malaysia Anwar Ibrahim, juga mantan Presiden Joko Widodo juga disebut. Dari Indonesia, ada nama-nama pengusaha-politikus Hary Tanoesoedibjo, Sri Mulyani Indrawati, konglomerat Eka Tjipta Widjaja, mantan Presiden Soeharto dan lain-lain. Tetapi sekali lagi, tidak ada temuan kaitan atau hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh tersebut, kecuali hanya disebut terkait suatu narasi atau pemberitaan. Misalnya, nama Jokowi disebut dalam konteks situasi politik Indonesia, terutama pada pemilihan presiden 2014. Nama Eka Tjipta disebut karena membeli rumah mewah milik Trump di Beverly Hills seharga 9,5 juta dollar AS pada tahun 2009. Memang nama “Indonesia” sendiri cukup banyak disebut di dalam dokumen, bahkan lebih 900 kali.

Buntut Epstein Files
Namun, mereka yang memang punya kaitan langsung mendapatkan dampak. Pangeran Andrew ditangkap polisi Inggris pada 19 Februari 2026, dengan tuduhan “dugaan penyalahgunaan jabatan publik.” Tetapi pada sore harinya Andrew dibebaskan sambil menunggu proses penyelidikan lebih lanjut. Pangeran Andrew seakan menggali sendiri lubang kuburnya. Gelar kehormatannya di kemiliteran dan gelar pangerannya dicopot oleh Raja Inggris setelah memoar korban Epstein, Virginia Giuffre terbit pada Oktober 2025. Giuffre mengajukan gugatan perdata pada 2022 (Giuffre meninggal pada 25 April 2025), dan Andrew membayar uang kepada Giuffre tanpa mengakui kesalahan. Bukan hanya pencopotan gelar-gelar kehormnatannya, Andrew Mountbatten-Windsor pun diusir dari kediaman mewah di Windsor. Di dalam dokumen, Andrew dijejaki dengan dengan sebutan “The Duke” atau inisial “A”.
Epstein Files mulai memakan tokoh-tokoh yang pernah terkait atau berhubungan langsung dengan Epstein. Sejumlah politikus Eropa pun mundur buntut terbongkarnya Epstein Files. Mereka antara lain Jack Lang (mantan Menteri Kebudayaan Prancis), Miroslav Lajčák (penasihat keamanan nasional Slovakia untuk Perdana Menteri Robert Fico), Joanna Rubinstein (Ketua Sweden for UNHCR) yang mundur karena pernah mengunjungi pulau pribadi Epstein pada 2012, Peter Mandelson (mantan Menteri Perdagangan dan diplomat Inggris), yang ditarik dari posisi Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat. Tak hanya itu, Mandelson bahkan ditangkap polisi pada 23 Februari 2026 atas dugaan pelanggaran jabatan publik.

Perkara Epstein
Kasus Epstein mencuat pada tahun 2005 tatkala kepolisian di Palm Beach, Florida, mulai melakukan penyelidikan sesudah laporan orang tua karena putrinya usia 14 tahun dilecehkan Epstein. Waktu itu eterdidentifikasi 36 gadis muda yang diduga telah mengalami pelecehan seksual oleh Epstein. Tahun 2008 Epstein divonis bersalah dan menjalani hukuman selama 13 bulan, itu pun dengan izin keluar untuk bekerja pada siang hari. Kala itu dibayangi dengan adanya kesepakatan pengakuan bersalah yang kontroversial yang disetujui Alexander Acosta dari Departemen Kehakiman. Acosta menjadi Menteri Tenaga Kerja pada 2017-2019 di periode pemerintahan Trump yang pertama.
Setelah dibebaskan pada Juli 2009, Epstein kembali menghadapi sejumlah gugatan perdata dari para korban kejahatan seksualnya. Virginia Giuffre termasuk korban paling gigih. Giuffre juga menggugat Ghislaine Maxwell, rekan dekat atau pasangan sosial Epstein pada 2015 dengan tuduhan pencemaran nama baik. Semua proses persidangan terdokumentasikan di pengadilan.
Pada 6 Juli tahun 2019, Epstein kembali ditangkap. Tuduhannya perdagangan seks anak di bawah umur di Florida dan New York. Sekitar sebulan kemudian, tepatnya 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan terkapar di selnya. Otoritas menyatakan Epstein bunuh diri, meskipun banyak spekulasi yang meragukan kesimpulan itu. Dengan kematiannya, semua perkara Epstein pun dinyatakan gugur. Hakim membatalkan perkara Epstein pada pada 29 Agustus 2019. Tetapi pasangan Epstein, Ghislaine Maxwell, pada tahun 2022 dijatuhi kurungan penjara selama 20 tahun. Ia disebut sebagai perekrut gadis-gadis muda Epsten. Dia dituduh dalam perkara perdagangan seks dan konspirasi membantu menyediakan gadis-gadis muda itu.
Epstein Files atau berkas-berkas Epstein ini telah membongkar catatan-catatan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Epstein. Dokumen itu memperlihatkan bahwa begitu banyak gadis-gadis muda yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual, serta perdagangan manusia. Betapa para korban tak berdaya menghadapi orang yang memiliki modal begitu besar dan jaringan perkawanan yang begitu kuat dengan tokoh-tokoh penting yang memiliki kekuasaan negara bahan dunia. Di balik kehidupan yang gemerlap para tokoh dan kalangan elite dunia, harus disadari betapa banyak gadis-gadis muda yang menangis dan kehilangan masa depan direnggut Epstein. (P5/dari berbagai sumber)