Palmerah.online

Indonesia Pelopor Bangsa-bangsa Asia-Afrika, Masih Bertajikah?

Palmerah.online
Suasana Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka, Bandung, berlangsung 18-24 April 1955. Ipphos/

Indonesia pernah malang-melintang menjadi pemain dunia. Perannya sangat aktif. Suaranya didengar banyak bangsa. Sikap dan pendiriannya menjadi sumbu api kekuatan baru. Dalam sejarahnya, tahun ini adalah peringatan 71 tahun Indonesia sebagai penggagas, pelopor, dan penggerak Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955. Tujuh dekade silam, Indonesia mampu menghimpun bangsa-bangsa Asia dan Afrika, menjadi kekuatan dunia yang diperhitungkan.

Dekade 1950-an adalah situasi dunia yang penuh dinamika. Perang Dunia II (1939-1945) belum lama usai. Pada pertengahan abad ke-19 itu, banyak bangsa di Asia dan Afrika berhasil membebaskan diri dari belenggu kolonialisme yang subur sejak abad ke-15. Bangsa-bangsa baru telah lahir dari kekumuhan penjajahan Barat. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945,  Vietnam (2 September 1945), Filipina (4 Juli 1946), Pakistan (14 Agustus 1947), India (15 Agustus 1947), Myanmar (4 Januari 1948), Sri Lanka (4 Februari 1948), dan China (1 Oktober 1949).

Namun, di belahan lain dunia masih banyak bangsa-bangsa yang terus berjuang melawan cengkeraman kolonialisme. Di Afrika, bangsa Aljazair, Kongo, Maroko, Tunisia terus menggelorakan semangat perlawanan untuk membebaskan diri dari penjajahan. Bahkan di negara-negara baru merdeka pun masih menyisakan masalah, seperti di Aden, Palestina, Kashmir, termasuk Indonesia di mana wilayah Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Bangsa-bangsa penjajah belum move on menghadapi fakta bahwa bangsa-bangsa yang dijajahnya sejak ratusan silam itu sudah muncul sebagai bangsa yang berdaulat. Tak mengherankan, politik adu domba dilakukan untuk bikin kisruh negara-negara baru tersebut.

 Dari Perang Dunia II ke Perang Dingin

Dengan kenyataan tersebut, situasi dunia pasca Perang Dunia II pun bisa disebut “tidak baik-baik saja”. Bahkan, melahirkan ketegangan baru ketika dua kekuatan berhadapan satu sama lain. Akhir Perang Dunia II justru awal lahirnya Perang Dingin (Cold War). Dua kubu menjadi perang poros baru dunia. Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS), representasi kekuatan kapitalis; berhadapan dengan Blok Timur yang dikomando oleh Uni Soviet (US) yang mewakili kekuatan komunis. AS dan US yang bersekutu dalam Perang Dunia II pecah kongsi.

Walaupun tidak ada perang yang luas di seluruh dunia pada era Perang Dingin, tetapi menimbulkan perang proxy, yaitu di Semenanjung Korea. Perang Korea (1950-1953) semakin memperumit perbedaan dua wilayah yang sudah menjadi dua negara tahun 1948: Korea Utara (wilayah yang dikuasai US) dan Korea Selatan (wilayah yang dikuasai AS) sepeninggal kekalahan Jepang. Perang proxy paling lama dan menyita perhatian yang terjadi di Indo-China, antara tahun 1957-1975. Vietnam Utara yang berideologi komunis berhadapan dengan Vietnam selatan yang didukung AS dan sekutunya.

Selama masa Perang Dingin, hal yang paling menakutkan adalah perlombaan pengembangan senjata nuklir. Blok Barat dan Blok Timur sama-sama berpacu memproduksi senjata-senjata mematikan, yang menimbulkan kecemasan dunia. Ini adalah situasi yang tidak baik bagi dunia, yang baru saja terbebas dari kecamuk Perang Dunia II.

Dari Kolombo ke Bogor

Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Sri Lanka, Sir John Kotelawala, mengundang para perdana menteri dari beberapa negara yang baru merdeka. Mereka adalah U Nu  dari Birma (kini Myanmar), Jawaharlal Nehru dari India, Ali Sastroamidjojo dai Indonesia, dan Mohammed Ali Bogra dari Pakistan. Dalam pertemuan Kolombo itu  agenda para pemimpin negara-negara tersebut membicarakan berbagai isu, terutama solidaritas bersama bangsa Asia dalam menolak kolonialisme dan kerja sama yang daopat dicapai di berbagai bidang.

Presiden Soekarno yang menyetujui pertemuan itu lalu menyampaikan ide untuk diadakannya forum lebih luas, yang meliputi bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Tentu ini sangat relevan dengan situasi dunia saat itu. Ketika Blok Barat dan Blok Timur berlomba-lomba mengembangkan persenjataan, dunia berkembang yang baru merdeka justru berupaya mencari jalan untuk membantu meredakan ketegangan dunia. Persatuan negara-negara berkembang sangat penting guna memelihara perdamaian dunia. Karena itu, agendanya adalah hidup berdampingan secara damai (co-existence), perlucutan senjata (disarmament), dan persoalan senjata penghancur massal (weapons of mass destruction).

Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru berdiskusi dengan PM Birma U Nu. Departemen Penerangan/30 Tahun Indonesia Merdeka

Mengingat strategisnya agenda tersebut, maka rencana pertemuan bangsa-bangsa Asia-Afrika itu digarap tidak main-main. Kepala Perwakilan Indonesia di Asia, Afrika, dan Pasifik dikumpulkan di Wisma Tugu, Puncak, Jawa Barat pada 9-22 Maret 1954. Agendanya  untuk merumuskan suatu usulan yang akan dibawa Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo ke Konferensi Kolombo. Ketika Konferensi Kolombo digelar pda 28 April-2 Mei 1954, usulan Indonesia diterima. Pada Komunike Konferensi Indonesia diberi kesempatan untuk menjajaki dan menyiapkan pertemuan tersebut.

Indonesia bergerak cepat. Sebanyak 18 negara di Asia dan Afrika dihubungi. Ibarat gayung bersambut, negara-negara tersebut memberi respons positif. Bahkan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah konferensi. Indonesia harus berpacu cepat mengingat situasi dunia yang terus bergejolak. Tentu saja termasuk menyingkirkan keraguan yang membayangi kalangan internal. Dalam portal Kemlu (Museum Konperensi Asia Afrika KAA/https://mkaa.kemlu.go.id), pada 18 Agustus 1954, PM India Jawaharlal Nehru berkirim surat mengingatkan Indonesia tentang perkembangan situasi dunia yang semakin gawat, sehingga ada keraguan dapat terselenggaranya konferensi itu. Nehru baru dapat diyakinkan setelah PM Ali Sastroamidjojo mengunjunginya pada 25 September 1954. Rupanya banyak negara berpendapat, seperti PM Birma U Nu, bahwa konferensi harus segera digelar.

Tidak mau menunda lagi. Para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo yang dinilai sebagai promotor diundang ke Bogor pada 29 Desember 1954. Agendanya jelas membahas persiapan Konferensi Asia Afrika, meliputi format pertemuan, agenda pembahasan, tujuan konferensi, dan negara-negara yang akan diundang. Akhirnya diputuskanlah KAA digelar di Bandung. Pada 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia Afrika dikirimkan kepada kepala pemerintah dari 25 Negara Asia dan Afrika.

Bandung Bersiap

Waktu semakin bergulir. Persiapan terus dilakukan lewat Sekretariat Bersama yang diisi oleh perwakilan lima negara penyelenggara. Ketua sekretariat bersama adalah Roeslan Abdulgani, yang kala itu Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri sedangkan kepala-kepala perwakilan empat negara lainnya adalah U Mya Sein (Kuasa Usaha Birma), M. Saravanamuttu (Duta Besar Sri Lanka), B.F.H.B. Tyabji (Duta Besar India), dan Choudhri Khaliquzzaman (Duta Besar Pakistan).

Di Bandung, dibentuk panitia setempat yang diketuai Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat. Tugasnya melakukan persiapan teknis terkait akomodasi, logistik, transportasi, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain. Ada dua gedung yang akan digunakan sebagai tempat berlangsungnya sidang-sidang konferensi, yaitu Gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun. Begitu seriusnya menyambut KAA, dua gedung itu diubah namanya oleh Presiden Soekarno saat melakukan pemeriksaan kesiapan di lapangan pada 7 April 1955. Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka. Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwiwarna. Bahkan, Jalan Raya Timur – tempat gedung itu berlokasi – diubah menjadi Jalan Asia Afrika.

Peserta konferensi diperkirakan sekitar 1.500 orang. Ada 14 hotel, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger, serta 31 bungalow di Jalan Cipaganti, Ciumbuleuit, dan Lembang yang disiapkan untuk penginapan. Panitia juga menyediakan fasilitas akomodasi untuk sekitar 500 wartawan dari 32 negara yang meliput peristiwa bersejarah itu. Untuk keperluan transportasi, panitia menyiapkan 143 mobil, 30 taksi, 20 bus; dengan sopir sebanyak 230 orang; dan bahan bakar sebanyak 350 ton per hari dengan cadangan 175 ton.

Ada 29 Negara Hadir

Dari 25 negara yang diundang, hanya satu yang menolak karena memang masih dikuasai penjajah, yaitu Federasi Afrika Tengah. Jumlah peserta KAA adalah 29 negara, terdiri 24 negara undangan plus lima negara penggerak. Ke-29 negara itu adalah Afghanistan, Indonesia, Pakistan, Birma, Filipina, Kamboja, Irak, Iran, Arab Saudi, Sri Lanka, Jepang, Sudan, China, Yordania, Suriah, Laos, Thailand, Mesir, Libanon, Turki, Ethiopia, Liberia, Vietnam Utara), Vietnam Selatan, Gold Coast (Ghana), Libya, India, Nepal, dan Yaman.

Semua persiapan sudah dilakukan. Gaung perhelatan akbar yang menjadi penanda solidaritas bangsa-bangsa Asia dan Afrika itu menjadi perhatian dunia. Pada hari Senin, 18 April 1955 (dan berakhir 24 April 1955), Bandung tampak berbeda. Sejak pagi hari rakyat memenuhi kedua sisi di sepanjang Jalan Asia Afrika, mulai depan Hotel Preanger sampai dengan Kantor Pos dan Giro Bandung sekitar 600 meter. Mereka ingin menyaksikan dan menyambut para tamu dan pemimpin dari berbagai negara, yang berjalan dari tempat menginap menuju Gedung Merdeka. Perjalanan para delegasi berjalan kaki itu dikenal dengan  “Langkah Bersejarah” (The Bandung Walks). Suara pekikan “Merdeka!” bergema diteriakkan rakyat terutama saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta tiba di Gedung Merdeka.

Soekarno dan Solidaritas Asia-Afrika

Presiden Soekarno saat membuka Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka Bandung, 18 April 1955. Ipphos/30 Tahun Indonesia Merdeka

Presiden Soekarno membuka konferensi dengan pidato “Let a New Asia And a New Africa be Born” (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru) yang menekankan pentingnya solidaritas dan persatuan karena memiliki latar belakang sebagai bangsa terjajah. “Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!”

Dari atas podium, kata-kata Soekarno bergema nyaring. Indonesia menjadi pelopor sekaligus penggerak pembangun solidaritas dan kebangkitan Asia-Afrika. Tentu kepemimpinan Soekarno sangat penting. Dalam kiprahnya Soekarno menjadi garda terdepan melawan kemapanan kapitalis, kolonialis, dan imperialis. Peristiwa KAA menjadi penanda bahwa Indonesia merupakan negara yang memainkan peran penting dalam panggung dunia di masa lampau. KAA melahirkan prinsip-prinsip hubungan antabangsa yang disebut Dasasila Bandung, meliputi penghormatan terhadap hak-hak dasar manusia, menghormati kedaulatan semua bangsa, mengakui persamaan ras, tidak intervensi negara lain, menghormati semua bangsa untuk mempertahankan diri, tidak menggunakan aturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan negara besar dan tidak menekan negara lain, tidak agresi  terhadap suatu negara, menyelesaikan perselisihan dengan jalan damai sesuai piagam PBB, memajukan kepentingan bersama, dan menghormati hukum dan kewajiban internasioinal. Pada hari ini, bercermin pada peristiwa tersebut, dapatkah Indonesia kembali memainkan peran strategis dalam penyelesaian konflik dunia, misalnya Palestina atau Iran? Apakah Indonesia masih bertaji? (P5)

Sumber: https://mkaa.kemlu.go.id

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku