Palmerah.online

Korea Bangun Institut Kedokteran Digital, Bagaimana Indonesia?

Palmerah.online

Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) memulai pembangunan Innovative Digital Institute of Medical Science yang peletakan batu pertamanya dilakukan di Kampus Munji, Yuseong-gu, Daejeon, Kamis (19/2/2026). Institut baru ini dirancang sebagai infrastruktur strategis untuk menopang ambisi Korea Selatan menjadi kekuatan global dalam kecerdasan buatan (AI) medis, industri farmasi, dan bio-kesehatan. Pembangunannya menandai babak baru dalam upaya negeri ginseng itu mempersiapkan generasi ilmuwan-dokter yang melek teknologi masa depan.

Upacara peletakan batu pertama Institut Digital Inovatif Ilmu Kedokteran, Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). KAIST

Pemerintah Korea Selatan, Kota Daejeon, dan KAIST bersama-sama menginvestasikan total anggaran sebesar 42,23 miliar won atau sekitar Rp  480 miliar  untuk membangun gedung berlantai tujuh dengan total luas lantai sekitar 10.000 meter persegi. Penyelesaian konstruksi ditargetkan pada November 2027.  Presiden KAIST Lee Kwang-hyung menegaskan bahwa pembangunan institusi ini adalah komitmen jangka panjang universitas dalam melayani kepentingan nasional sekaligus umat manusia.

Bagi Indonesia, langkah Korea ini semestinya lebih dari sekadar berita dari negeri tetangga yang dikagumi. Dengan lebih dari 287 juta penduduk, beban penyakit yang masih berat, dan industri farmasi yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor, Indonesia sesungguhnya membutuhkan ilmuwan-dokter dalam jumlah yang jauh lebih besar dari Korea Selatan. Namun hingga hari ini, konsep physician-scientist sebagai sebuah jalur karier yang terhormat dan sistemik hampir tidak dikenal dalam ekosistem pendidikan kedokteran nasional.

Pertanyaan yang relevan bukanlah kapan Indonesia akan membangun gedung seperti yang sedang dibangun KAIST. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apakah Indonesia sudah memiliki peta jalan untuk mencetak manusia yang mampu berdiri di persimpangan antara stetoskop dan algoritma, serta  dihargai setimpal atas pilihan itu? Indonesia Emas 2045, mestinya bukan sekadar jargon, tetapi disertai dengan peta jalan untuk mencapainya. (P-3)

(Sumber: KAIST News Center, Korea Biomedical Review, Seoul Economic Daily)

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku