Palmerah.online

Daya Magis Kampung Adat Prai Ijing yang Memesona

Palmerah.online

Ketika mendarat di Pulau Sumba, di akhir Oktober 2025, cuaca sedang puncak panas-panasnya.  Sesaat sebelum mendarat, dari balik jendela pesawat ATR-500 yang terbang dari Bandara Praya di Lombok, saya memandangi hamparan tanah yang didominasi warna kecoklatan, kering, dan gersang; meskipun masih terlihat sedikit pepohonan berwarna hijau.  Tetapi beda sekali dengan pemandangan sebelumnya ketika tiba di bulan Juli. Kala itu, hamparan tanah dan pepohonan masih terlihat menghijau seluruhnya.

Bersama Kepala Desa Tebara Marthen Ragowino Bira dan dua fotografer senior Johnny TG dan Arbain Rambey. Redaksi | Palmerah.Online

Turun dari tangga pesawat di Bandara Lede Kalumbang di Tambolaka di Sumba Barat Daya pada pagi hari sekitar pukul 09.36 WITA langsung disergap uap panas tanah Sumba. Memang, langit begitu biru jernih berhias gumpalan awan putih – menandakan ketiadaan polusi udara – tetapi cahaya matahari begitu menyilaukan. Semua pandangan terasa memutih. Rasanya mata tak mampu terbuka tanpa kacamata hitam.

Cuaca yang semakin panas itu lumrah karena berada di penghujung musim kemarau. Suhu dan kelembapan yang tinggi membuat udara terasa panas. Dan, jangan lupakan Pulau Sumba yang banyak didominasi bukit dan padang sabana membuat tanah cepat memanas. Sumba adalah wilayah gersang dan kering. Terlebih lagi, pada bulan Oktober posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Itu artinya matahari terasa dekat dengan Sumba yang berada di wilayah selatan dari garis Katulistiwa.

Sayur daun pepaya dan ikan segar

Tetapi panas Sumba itu hanya momen opname, kesan sesaat. Kesan panasnya cepat terlupakan, ketika sampai di pintu gerbang Prai Ijing, setelah menempuh perjalanan berkendara sekitar 43 kilometer.  Sebetulnya bila perjalanan langsung akan ditempuh sekitar 1 jam lebih sedikit, karena paling-paling sedikit tersendat di beberapa pasar. Selebihnya jalan lancar tiada kemacetan.

Cuma siang itu, saya yang bepergian bersama dua sahabat, kedua-duanya forografer senior, Johnny TG dan Arbain Rambey, lebih memilih mengisi perut selepas keluar dari areal bandara. Terbang dari Jakarta pada subuh hari membuat kami tak sempat sarapan. Di sebuah restoran kami memesan menu khas: sayur bunga pepaya dan ikan bakar segar. Saya sering mencandai, “Kalau di Jakarta ikannya sudah mati 4-5 kali, tapi kalau di Sumba baru satu kali mati” untuk menyebut betapa fresh ikan-ikan yang tidak sampai ke Jakarta. Karenanya, saya harus merasakan sapaan khas pertama di tanah Sumba itu.

Alhasil, kami baru tiba Prai Ijing pada tengah hari, setelah matahari bergeser ke arah barat. Sampai di gerbang kampung, pepohonan besar di sekelilingnya meneduhkan tubuh dari sengatan matahari. Batang pohonnya terlihat besar-besar dengan kulit kayu terlihat mengelupas, menandakan sudah berusia tua. Apalagi pohon beringin yang begitu rimbun, dengan sulur akarnya yang menjuntai. Prai Ijing adalah kampung adat yang posisinya berada di perbukitan. Posisi kampung adat di perbukitan tampaknya merupakan bagian dari sistem pertahanan pada masa lalu. Rumah-rumah di atas perbukitan umumnya untuk perlindungan, menghindari serangan musuh.

Meskipun agak tersembunyi tetapi aksesnya begitu dekat dan mudah, hanya beberapa meter dari Jalan Jenderal Sudirman, jalur utama yang menghubungkan Waikabubak-Waingapu. Dari titik pusat kota  di Stadion Manda Elu, cuma berjarak sekitar 2,5 kilometer. Bermobil dapat dicapai kurang dari 10 menit. Secara administratif, kampung adat Prai Ijing terletak di Desa Tebara, Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.

Walaupun mirip dengan kampung-kampung adat lainnya di Sumba, Prai Ijing punya sesuatu yang berbeda. Pola permukimannya unik. Memanfaatkan kontur tanah berbukit, Prai Ijing menjadi obyek fotografi yang tak bisa diabaikan. Rumah-rumah yang berjajar rapi seakan tersusun bertingkat-tingkat sesuai topografinya, dari posisi tanah tinggi ke bagian yang rendah. Barisan rumah-rumah menara menjulang tinggi yang berpadu dengan alam perbukitan, hamparan persawahan, serta panorama kota Waikabubak; menjadi pemandangan menawan. Itulah salah satu daya tarik Prai Ijing. Lanskap itu yang dipromosikan pula. Lihat saja di Bandara Lede Kalumbang, di salah satu dindingnya ada mural lukisan Kampung Prai Ijing yang ikonik.  Tak mengherankan, semua pengunjung yang datang ke Prai Ijing, hampir dapat dipastikan menjadikan lanskap itu sebagai latar dalam foto kenangan mereka. Tiada yang mau melewatkan walaupun kondisi lelah menanjak perbukitan.

Kampung megalitik penuh makna filosofis

Sejak di Jakarta, kami sudah bikin janji dengan Kepala Desa Tebara Marthen Ragowino Bira, yang sudah kami kenal sejak kedatangan sebelumnya. Ia menjemput di perempatan di sekitar Lapangan Manda Elu di pusat kota Waikabubak. Begitu berpapasan, kendaraan kami mengikuti  kendaraan Marthen yang menuntun ke kampung Prai Ijing.  Beristirahat sebentar di pintu masuk Prai Ijing, saya bersama dua sahabat fotografer senior itu mulai ngobrol dengan Marthen.

“Prai Ijing ini kampung adat yang sudah berusia ratusan tahun itu,” kata Marthen mengawali obrolan, seraya menambahkan, “Sudah sekitar sembilan generasi.”  Jumlah penduduk Prai Ijing diperkirakan 300-an orang. Ada  13 marga dan ada 93 kepala keluarga (KK). “Karena, dalam satu KK bisa ada 3-4 keluarga,” kata Marthen.

Tanduk-tanduk kerbau bagian dari ritual dan kehidupan. Redaksi | Palmerah.Online

Di Prai Ijing terdapat 38 rumah adat. Sebelumnya ada 42 rumah tapi empat rumah terbakar di tahun 2000. Rumah-rumah asli Sumba adalah rumah-rumah panggung yang memiiki atap tinggi menjulang berbentuk menara. Ketinggiannya bisa mencapai 10-30 meter. Rumah itu disebut uma mbatangu (rumah menara) atau uma bokulu (rumah besar). Rumah-rumah yang tinggi juga melambangkan penghormatan kepada arwah leluhur dalam kepercayaan Marapu (agama asli yang percaya pada leluhur).

Bagi orang Sumba, rumah bukan sekadar dilihat secara harfiah sebagai bangunan secara fisik. Rumah juga memiliki makna filosofi mendalam. Rumah Sumba memiliki tiga level. Level pertama disebut sali kabungnga  atau lei bangun, tempat memelihara hewan. Ini melambangkan kehidupan manusia di dunia yang kotor. Level kedua  disebut rongu uma, yaitu tempat hunian manusia yang dekat dengan perapian di tengah rumah. Filosofinya sebagai tempat penyucian jiwa sebelum menuju dunia arwah (Marapu). Level ketiga adalah uma daluku, yaitu bagian menara tempat menyimpan makanan dan benda-benda budaya. Ada empat tiang yang menopang menara dan rumah. Pada level ini melambangkan surga.

Ada yang menarik lagi. Di rumah-rumah ada yang disebut pintu laki-laki dan pintu perempuan. Pintu laki-laki dekat dengan ruang tamu, sedang pintu perempuan dekat dengan dapur. Pintu laki-laki tempat masuknya kaum laki-laki. Pintu perempuan tempat masuknya kaum perempuan. Ada juga satu bagian rumah yang tertutup dan dihalang palang kayu. Saya agak penasaran. Saya mendekati, meski hati-hati karena banyak pantangan yang tak boleh dilanggar.  Ternyata  memang dilarang untuk masuk ke areal itum, bahkan memindahkan palang kayunya pun tidak boleh. Sebab, itu adalah rumah adat, tempat ritual.

Di Prai Ijing, seperti halnya di Sumba pada umumnya, tradisi megalitik sangat kentara. Kubur batu begitu mencolok terdapat di depan-depan rumah. Usianya sudah ratusan tahun. Ada yang masih berupa batu-batu-besar yang sudah dipipihkan. Batu-batu itu dilubangi lalu di dalamnya ditaruh mayat-mayat, dan ditutup kembali dengan batu. Di masa lalu, di celah-celahnya diolesi kotoran kerbau yang berfungsi sebagai lem. Kini sebagian kubur berbentuk semen. “Kubur batu itu dingin, beda dengan semen,” kata Marthen.

Kubur batu yang merupakan tradisi megalitik adalah bagian dari proses kepercayaan orang Sumba yang menganut Marapu. Walaupun banyak orang Prai Ijing sudah memeluk agama Katolik, misalnya, tetapi rupanya dalam kehidupan sehari-hari tradisi Marapu Masih menjadi panduan hidup mereka.

Harmoni menyatu dengan alam

Kami berkeliling kampung ditemani pak kepala desa. Di rumah-rumah ada anak-anak muda bergerombol, inna-inna yang menenun, anak-anak yang bermain-bermain, tentu saja berpapasan dengan para wisatawan yang tengah mengeksplor Prai ijing.  Marthen bercerita banyak  hal: sejarah, asal-usul, filosofi, hingga bentuk-bentuk dan material bangunan rumah menara. Ia telaten menjelaskan tentang atap rumah yang dibuat dari daun ilalang yang disusun bertumpuk-tumpuk. “Ilalang itu makin kuat ditumpuk-tumpuk. Mungkin karena sama-sama menderita, dihantam panas dan hujan akhirnya ilalang itu saling menyatu,” canda Marthen, yang sesungguhnya mengungkap makna filosofi tentang kuatnya atap ilalang sebagai pelindung bagi kehidupan manusia.

Saya menyaksikan Marthen begitu dekat dengan warga Prai Ijing. Ia selalu menyapa dan beberapa kali menawari rokok saat menghampiri anak-anak muda yang sedang bergerombol. “Ini keluarga saya, kampung kakek saya sebelah sana,” kata Marthen menunjuk arah rumah yang dimaksud. Kedekatannya menyapa warga membuat saya begitu antusias dan tidak terasa capek ketika menyusuri jalanan di Prai Ijing. “Wah nanti akan terasa kalau jalan baik karena jalannya menanjak,” kata saya tersadar sendiri.

Menyusuri kampung Prai Ijing, terasa benar-benar menyatu dengan alam. Desiran angin yang menimbulkan bunyi gesekan daun dan ranting-ranting pohon seperti harmoni kehidupan yang tenang.  Di Prai Ijing memang tidak ada benturan. Warga menghormati aturan adat. Meskipun di Prai Ijing tidak ada pemimpin tertinggi tetapi mereka menghormati pemimpin  marga masing-masing, yang disebut rato. Di kampung di puncak bukit itu kehidupan seperti berpadu dalam harmoni, tidak ada yang saling merampas.

Realita hidup bergulir alamiah. Saling menghargai dan menghormati. Warga pergi ke kebun dan sawah. Para perempuan menenun di depan rumah. Semuanya harus bekerja, berkeringat. Tidak ada yang bisa diraih instan.  Kalau pun ada pasti jalan itu bukanlah jalan yang tepat. Kami tertahan di depan rumah ketika sejumlah perempuan (inna-inna) asyik menumbuk padi menimbulkan nada lumpang batu tertumbuk alu. Saya terhenyak, berpikir sejenak, inilah proses makanan yang nyaris tak ditemukan lagi di banyak daerah.

Kaum perempuan begitu lincah menenun yang diwarisi dari generasi ke generasi. Redaksi | Palmerah.Online

Momen itu seakan memberi tahu bahwa perlu proses dan kerja keras untuk mendapatkan nasi terhidang di meja makan. Dengan begitu kita diingatkan agar menghormati nasi, tidak menyia-nyiakan atau menghamburkan. Tiba-tiba, saya merasakan bahwa Prai Ijing yang berusia ratusan tahun silam itu bukan saja menghadirkan situasi magis secara literer yang bersifat gaib, tetapi saya menemukan kembali “daya magis” yaitu perilaku baik manusia yang telah hilang dimakan zaman. Di masyarakat perkotaan, barangkali sudah banyak yang lupa proses sirkulasi beras dari padi hingga menjadi nasi pulen. Generasi sekarang mungkin cuma tahu sudah terhidang di meja dan siap disantap. Sebuah momen penting mengingatkan agar kita dapat menghargai nasi yang kita santap.

Desa wisata andalan

Prai Ijing adalah potret dua masa bersandingan: masa silam dan masa kini. Jejak-jejak megalitik dari masa silam berpadu dengan tata kelola menjadi Prai Ijing sebagai desa wisata andalan. Sebagai kepala desa, Marthen yang memasuki periode kedua ini, mampu membawa Desa Tebara menjadi desa wisata yang andal. Ia berhasil mengangkat dan memadukan budaya lokal, tradisi, partisipasi warga, keindahan alam, dan pariwisata. Paling penting lagi ia mampu mengerakkan dan mengubah pola pikir (mindset) warganya untuk merangsang lahirnya ide-ide kreatif dan inovatif. Ia mengorganisasi tata kelola wisata budaya yang berdampak positif dan signifikan.

Kesadaran warga menjaga kampung mereka sebagai aset yang menguntungkan semakin menguat. Kreativitas warga pun membuka lapangan kerja dan dapat meningkatkan kesejahteran hidup warga. Misalnya, keahlian menenun terus dipertahankan dan dikembangkan.  Industri rumahan seperti produksi kopi setempat juga dikembangkan. Karya para perajin warga setempat seperti kain tenun atau kopi dijajakan di Prai Ijing, juga adanya homestay, serta tentu saja dengan setting sejumlah spot-spot foto dengan pemandangan alam yang ikonik.

“Mulanya tidak mudah,” kata Marthen. Banyak warga yang mempertanyakan atau meragukannya. Apa yang akan diperbuat Marthen? Kira-kira begitu pertanyaan di benak banyak warganya. Tetapi Marthen tetap bersemangat dan konsisten dengan tekadnya untuk memajukan tanah kelahirannya, meninggalkan kehidupannya di Jakarta.

Prai Ijing yang punya pesona. Redaksi | Palmerah.Online

Kini Desa Wisata Prai Ijing semakin berkembang. Pembenahan infrastruktur, fasilitas, dan tata kelola wisata membuat desa itu makin sering dikunjungi wisatawan. Apalagi lokasinya mudah diakses. Pada tahun 2025, desa wisata ini meraih pendapatan sebesar Rp 1,4 miliar dari sektor pariwisata saja.

Dan, Prai Ijing mengukir prestasi sebagai  “desa bersinar” bukan cuma di Sumba tapi juga di Indonesia.  Terbaru, Desa Wisata Kampung Prai Ijing/Tebara meraih penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award 2026 yang digelar di Cebu, Filipina, 30 Januari 2026. Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap keunggulan fasilitas, layanan, dan pengelolaan destinasi yang diberikan kalangan industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara yang dinilai melampaui standar ketat yang ditetapkan ASEAN. Ini pengakuan terhadap praktik pariwisata berkelanjutan, berkualitas, dan berdaya saing di tingkat kawasan. Untung pemberdayaan tenunnya memang juara. Prai Ijing mewakili Indonesia untuk kategori rural category, bersama Kebun Raya Bogor untuk urban category. Sangat membanggakan!

Siang itu, seiring matahari terus bergulir ke arah barat, pertanda sore menjelang, kami berpamitan pada Marthen. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Waingapu di Sumba Timur yang berjarak 160 kilometer. Itu artinya butuh lebih empat jam berkendara. Sore itu, meninggalkan Prai Ijing, dengan satu kesan bahwa hal-hal magis masih terasa, tetapi saya menemukan kembali “daya magis” yang menyangkut perbuatan luhur manusia yang telah lama terlupakan: bekerja keras, bukan lewat jalan instan. (M. Subhan SD)

 

 

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku