Palmerah.online

Iran Tidak Tumbang, Perang Akan Berlangsung Lama

Palmerah.online

Lebih dari satu minggu serangan Amerika Serikat-Israel, tetapi Iran tak tergoyahkan. Serangan besar-besaran yang dilancarkan sepanjang hari, memang membuat pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei terbunuh dan menghancurkan sejumlah instalasi militer selain menyasar obyek-obyek sipil, tetapi Iran terus menunjukkan kekuatan sebagai negara yang tangguh. Iran juga terus melancarkan serangan balasan yang signifikan.

Bangunan hancur lebur setelah dibom AS-Israel, 8 maret 2026. iraninternational

Meskipun Iran tampak kerepotan karena menghadapi aliansi lawan yang cukup banyak, tetapi Iran mampu membuat lawan-lawannya harus berpikir ulang. Dengan terpilihnya Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru, Iran memperlihatkan kekuatan yang terkonsolidasi pasca-serangan. AS-Israel memang sudah mengultimatum bahwa nasib pemimpin baru tersebut tidak akan bertahan lama.

Namun, situasi mutakhir di Iran membuat AS-Israel tidak dapat menuntaskan ambisi yang bertekad menghancurkan Iran dalam waktu singkat. Kenyataannya Iran masih tegak berdiri. Pemerintah Republik Islam yang menjadi target serangan tak dapat digulingkan. Narasi serangan darat juga bukan pilihan tepat, mengingat Iran telah menunggu dengan semua kekuatannya. Karena itu, AS mulai berpikir bahwa perang dengan Iran akan berlangsung lama.

Sebuah laporan intelijen rahasia AS menyebutkan bahwa kampanye militer yang dipimpin AS terhadap Iran dinilai gagal mencapai tujuan politik untuk menggulingkan rezim Iran. Penilaian intelijen ini setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa perang dengan Iran dapat berlangsung lama. Serangan ini  sebagai bagian dari operasi militer yang “baru saja dimulai”. Meskipun, belakangan Trump mengubah pernyataannya bahwa perang itu akan berakhir dalam waktu dekat, lebih satu minggu Iran mampu bertahan dan bahkan melakukans erangan balasan yang sangat sengit.

Laporan Middle East Monitor, Senin (9/2/2026), yang mengutip laporan wartawan Warren P. Strobel di The Washington Post, menyebutkan bahwa penilaian rahasia yang disiapkan oleh Dewan Intelijen Nasional itu menyimpulkan bahwa serangan skala besar terhadap Iran pun tidak mungkin menggulingkan struktur kokoh yang menopang pemerintah Iran, yang diwakili oleh lembaga-lembaga keagamaan dan militer Republik Islam.

Rudal balistik Zolfaghar milik Iran iraninternational

Dalam konteks tersebut, dapat dipahami bagaimana semua kekuatan diorkestrasi AS untuk menggulingkan pemerintah Iran dan sekaligus menaklukkannya. Dalam wawancara di Fox News, Senator Lindsey Graham menyeret Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk aktif mendukung AS. “Inilah yang ingin saya katakan kepada Arab Saudi malam ini, saya bersedia untuk membuat perjanjian pertahanan bersama dengan negara Anda untuk memberi Anda perlindungan dan keberlanjutan berdasarkan perjanjian yang telah saya dorong, dan saya harap kita dapat terus membicarakannya, jika Anda diserang oleh Iran, kami akan berperang untuk Anda, Arab Saudi,” kata Graham, Senin.

“Kedutaan besar kami di Riyadh diserang. Apakah Anda tidak memiliki kewajiban untuk bergabung dalam pertempuran bersama kami? Anda belum melakukannya. Jadi, jika Anda tidak percaya bahwa serangan terhadap Kedutaan Besar Amerika di Riyadh akan memicu pertahanan diri bersama, mungkin kita tidak perlu membuat perjanjian dengan Anda,” tambahnya.

Arab Saudi dan UEA, seperti Bahrain, Qatar, dan Kuwait adalah negara-negara Teluk di mana AS punya pangkalan militer.  Iran telah melancarkan serangan ke fasilitas militer tersebut sebagai balasan serangan pada 28 Februari 2026. Sejak perang meletus, negara-negara tersebut bertindak pasif, tidak turut ambil bagian dalam serangan. Sementara itu, AS juga memberi sokongan kepada para kelompok Kurdi yang beroperasi di wilayah bagian barat Iran.

Di sisi Iran, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengatakan bahwa Teheran-lah, bukan AS atau Israel, yang akan memutuskan kapan konflik berakhir. Ia berjanji akan membalas dendam sampai musuh menyesali serangan mereka.

“Amerika dan Israel tidak dapat mengakhiri perang kapan pun mereka mau. Pemimpin Tertinggi Republik Islam dan angkatan bersenjata menuntut pembalasan,” demikian media pemerintah mengutip pernyataan Abdollahi. Sebagaimana dikutip iran international, Selasa (10/3/2026). (P5)

 

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku