Internasional, Peristiwa, Utama
Mojtaba, Memimpin Saat Krisis dan Genting
Iran kehilangan pemimpin tertingginya setelah Ayatullah Ali Khamenei gugur dalam serangan udara AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Lalu siapa yang akan menggantikannya, yang akan memimpin Iran dalam posisi yang sangat krusial? Majelis Pakar Iran memilih Mojtaba Khamenei, putra Ayatullah Ali Khamanei, yang tersiar pada Minggu (8/3/2026), sekitar sepekan setelah meninggalknya Khamenei.

Meskipun berita penunjukan itu tidak terlalu di luar dugaan, tetapi penunjukan Mojtaba sebagai rahbar atau supreme leader tetap agak lain. Mengingat posisi itu seakan diwariskan oleh ayahnya. Republik Iran sejak 1979 tiba-tiba menjadi dinasti. Apalagi di jenjang hierarki agama (ulama), Mojtaba belum sampai pada level tertinggi. Tetapi, ia dipandang sosok pas saat ini karena berada di balik kiprah Khamenei selama 37 tahun memimpin Iran sehingga tahu persis sepak terjang dan arah Iran. Ia pun memiliki jaringan dan kendali dengan banyak institusi, terutama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Tak mengherankan, Iran International yang menerima informasi eksklusif melaporkan bahwa Majelis Pakar Iran di bawah tekanan dari IRGC untuk memilih putra Ayatullah Ali Khamenei itu. Namun, yang perlu disadari bahwa ini bukanlah suksesi rutin. Ini adalah keputusan masa perang. Tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan. Tidak boleh ada kevakuman perintah dan kendali. Karena itu, tampaknya yang menjadi prioritas adalah kecepatan dan kendali, mengingat Iran dalam situasi genting dan bahaya karena menghadapi serangan AS dan Israel.
IRGC mendorong Mojtaba karena dua hal: kendali dan legitimasi. Kendali agar rantai komando tetap terjaga dan utuh, tidak boleh ada perpecahan di puncak kepemimpinan, menjaga pasukan keamanan tetap terkoordinasi, dan menghentikan perebutan kekuasaan. Bila hal-hal itu terganggu, krisis takkan terelakkan. Maka, disinyalir IRGC mengambil prioritas utama yaitu menjaga stabilitas internal.
Soal legitimasi, harus tetap terjaga di dalam basis inti rezim, yaitu politisi garis keras, lembaga keamanan, dan jaringan loyal. Di sini posisi Mojtaba dapat diandalkan, yang tidak dimiliki orang lain. Mojtaba bertahun-tahun menjadi saluran antara ayahnya dan kepemimpinan IRGC. Ia dekat dengan inti keamanan, tetapi juga terhubung dengan kepemimpinan sipil dan ulama yang bergantung padanya. Dengan demikian Mojtabah dapat menjaga kesinambungan langsung dengan jaringan Khamenei dan basis inti sehingga sistem terus berjalan.

Walaupun jarak tampil di publik dan tidak mempunyai jabatan politik secara formal, tetapi Mojtaba tak bisa disepelakan. Boleh jadi ia tokoh paling berpengaruh di dalam sistem pemerintahan Iran. Ia adalah tokoh yang bergerak di balik layar. Bertahun-tahun ia beroperasi dari dalam kantor pemimpin tertinggi, bertindak sebagai penjaga gerbang dan perantara kekuasaan di sekitar ayahnya. Mojtaba membangun pengaruh di seluruh lembaga politik, keamanan, dan keagamaan.
Banyak analis menyataka Mojtaba justru lebih keras dari sang ayah. Pengalaman sejak muda telah membentuk karakternya. Selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, Mojtaba bertugas di Batalyon Habib, sebuah unit yang sebagian besar terdiri dari sukarelawan yang terhubung dengan jaringan revolusioner Republik Islam. Batalyon tersebut beroperasi di bawah pasukan yang terkait dengan IRGC. Mojtaba berada di lingkaran elite. Mereka yang bertempur bersamanya kemudian naik ke posisi senior di aparat keamanan dan intelijen. Sejak itu Mojtaba menjalin relasi dan koneksi dengan tokoh-tokoh penting tersebut terlebih lagi sejak ia memegang kendali di kantor ayahnya.
Sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba belum muncul di publik. Yang tersebar beberapa hari setelah penunjukan dirinya atau sekitar Kamis (12/3/2026) dan kemudian disiarkan di media-media pada Jumat (13/3/2026) adalah pidato Mojtaba yang dibacakan di televisi diiringi foto sang pemimpin baru. Pernyataan sang rahbar baru yang dibacakan pembaca berita itu bahwa Iran akan membalas darahw arga Iran yang menjadi korban serangan AS-Israel. Juga, Iran akan memblokir Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Kepada negara-negara tetangganya, Mojtaba memperingatkan agar tidak tidak memberi izin wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer AS. “Tuntutan massa rakyat adalah kelanjutan pertahanan yang efektif dan menimbulkan penyesalan,” demikian pernyataan tersebut.
Ketiadaan kemunculan Mojtaba itu memunculkan spekulasi bahwa bahwa sang pemimpin tertinggi itu terluka dan dirawat di rumah sakit. Dalam serangan pada 28 Februari 2026, yang menjadi korban, selain sang ayah Ayatullah Ali Khamenei; juga ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh; istrinya, Zahra Haddad-Adel, dan salah satu anak mereka. Kehilangan yang begitu mendalam ini bisa jadi membuat Mojtaba semakin memimpin Iran dalam perlawanan yang sengit. (P5)