Humaniora, Internasional
Lonjakan Paten Perguruan Tinggi India: Kuantitas Tinggi, Kualitas Dipertanyakan
Ekosistem inovasi perguruan tinggi India tengah dilanda paradoks yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, angka pengajuan paten melonjak tajam; di sisi lain, kualitas dan daya komersial dari paten-paten tersebut masih jauh dari memuaskan. Menurut data Kantor Paten India, total pengajuan paten meningkat dari 58.503 pada 2020-2021 menjadi 110.375 pada 2024-2025, hampir dua kali lipat dalam empat tahun, dengan laju kenaikan tahunan sebesar 17,2 persen.

Dorongan insentif pemerintah dan penekanan National Institutional Ranking Framework (NIRF) pada riset telah menempatkan India di antara enam negara teratas dunia dalam aktivitas paten. Namun lonjakan angka ini justru memantik pertanyaan mendasar di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan: apakah perguruan tinggi India benar-benar berinovasi, atau sekadar mengejar angka demi peringkat institusional?
Fenomena paling mencolok adalah dominasi sejumlah universitas swasta dalam daftar pengaju paten terbanyak, mengalahkan institusi teknik paling bergengsi di India sekalipun. Antara 2020 dan 2023, Lovely Professional University mengajukan 7.096 aplikasi paten, sementara Galgotias University mengajukan 1.752 aplikasi pada 2020-2022. Jumlah yang melampaui gabungan seluruh Indian Institutes of Technology (IIT) yang hanya mengajukan 2.333 aplikasi sepanjang 2020-2025.
Galgotias University belakangan menjadi sorotan luas setelah robot anjing buatan China yang dipamerkan di India AI Impact Summit 2026 diklaim sebagai inovasi miliknya. Klaim palsu ini menyebabkan pihak universitas meminta maaf secara terbuka.
Di balik lonjakan pengajuan, tingkat persetujuan paten justru sangat rendah. Pada 2024-2025, dari total pengajuan yang masuk, hanya 33.504 paten yang dikabulkan, atau hanya sekitar sepertiga dari aplikasi baru yang masuk. Dari jumlah itu pun, hanya 10.682 yang diberikan kepada pemohon asal India; mayoritas diraih oleh perusahaan asing melalui jalur Patent Cooperation Treaty. Bahkan dari paten yang berhasil dikabulkan, hanya 1,59 persen yang benar-benar dikomersialisasikan per 1 April 2025.
Para analis menunjuk sistem pemeringkatan nasional sebagai akar masalah. “Formula ini merepresentasikan kegagalan struktural yang telah menjadikan sistem paten India sebagai senjata melawan tujuan inovasinya sendiri,” tulis Kartikeya Srivastava, mahasiswa tingkat akhir program LL.B. di National Law School of India University (NLSIU) Bangalore sekaligus mantan analis riset paten lepas, dalam analisis yang diterbitkan SpicyIP pada 20 Februari 2026. Laporan KPMG India 2025 mengenai NIRF juga mengakui bahwa kuantitas keluaran riset kerap mengalahkan kualitas, dan metrik persepsi dalam sistem pemeringkatan itu masih bersifat subjektif.
Pemerintah dan para pembuat kebijakan India kini mengakui bahwa paradigma perlu diubah secara mendasar. Para pakar menyerukan pergeseran prioritas dari kuantitas menuju kualitas. Investasi riset dan pengembangan India saat ini baru mencapai 0,64 persen dari PDB, jauh di bawah rata-rata global sebesar 2,67 persen, serta tertinggal dari Amerika Serikat (3,59 persen), China 2,56 persen, dan Korea Selatan 5,21 persen. Tanpa reformasi struktural yang menyeluruh, lonjakan angka paten India berisiko menjadi ilusi kemajuan yang menyesatkan. (P3)
Sumber: The Diplomat, Indian Research Watch, ANI News, dan Kantor Paten India (ipindia.gov.in)