Humaniora, Internasional
Tujuh Kampus China Kuasai 10 Besar Riset AI Dunia
Dominasi perguruan tinggi China di bidang kecerdasan buatan semakin tak terbendung. Hal itu tercermin dalam pembaruan terbaru CSRankings 2026, sebuah sistem pemeringkatan yang diakui luas oleh komunitas ilmu komputer dunia. Dalam pemeringkatan itu, Shanghai Jiao Tong University dan Tsinghua University secara bersamaan bertengger di posisi pertama global. Posisi ini sekaligus menggeser Massachusetts Institute of Technology dan Carnegie Mellon University yang selama ini menjadi penghuni tetap puncak daftar tersebut.

Yang lebih mencolok, tujuh dari 10 besar daftar itu kini diisi oleh kampus-kampus asal China, termasuk Zhejiang University, Peking University, Nanjing University, serta Chinese Academy of Sciences. Pemeringkatan CSRankings didasarkan pada jumlah publikasi dosen di konferensi ilmu komputer paling bergengsi di dunia, sehingga mencerminkan produktivitas riset yang sesungguhnya.
Para pengamat pendidikan tinggi mengingatkan bahwa kejutan ini sesungguhnya bukan kejutan sama sekali. Lonjakan itu adalah buah dari keputusan sistematis yang ditanam jauh sebelum dunia mulai ramai membicarakan large language model dan generative AI. Sejak 2015, pemerintah China secara konsisten menggelontorkan investasi besar-besaran melalui Program “Double First-Class”, yakni sebuah kebijakan ambisius yang menargetkan pembangunan universitas dan disiplin ilmu berkelas dunia dalam satu generasi. Program itu tidak sekadar menambah anggaran riset, melainkan membangun ulang ekosistem akademik secara menyeluruh: rekrutmen peneliti diaspora dari luar negeri, pembangunan laboratorium berstandar internasional, hingga insentif publikasi yang agresif. Hasilnya kini terlihat dan sulit dibantah.
Tsinghua University menjadi sorotan khusus dalam rilis terbaru ini. Universitas yang kerap dijuluki “MIT-nya China” itu menunjukkan keunggulan khusus dalam subkategori AI murni. Prestasi ini ditopang oleh Departemen Ilmu Komputer dan Teknologi serta Institut Riset Industri AI yang dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten melahirkan makalah-makalah berpengaruh di konferensi internasional sekelas NeurIPS, ICML, dan CVPR.
Salah satu pencapaian yang masuk dalam daftar 10 riset terbaik Tsinghua sepanjang 2025 datang dari tim Profesor Wu Yongwei, yang berhasil mengembangkan infrastruktur AI baru dengan efisiensi komputasi yang diklaim melampaui pendekatan konvensional. Produktivitas semacam ini bukan anomaly, melainkan pola yang kini melekat pada hampir seluruh universitas papan atas China.
Salah satu yang layak dicermati dalam fenomena ini adalah implikasinya terhadap lanskap geopolitik teknologi. Riset AI bukan sekadar urusan akademik, ia adalah fondasi dari keunggulan militer, ekonomi digital, dan kedaulatan data suatu bangsa. Ketika universitas-universitas China mendominasi konferensi ilmiah global, mereka tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga mencetak generasi peneliti, membangun jaringan kolaborasi internasional, dan membentuk arah pengembangan standar teknologi masa depan.
Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi apakah China akan menyamai Barat dalam riset AI, melainkan seberapa jauh dan seberapa cepat pergeseran itu akan terus berlangsung. Dunia akademik global, dengan segala keterbukaan dan kompetisinya, sedang menyaksikan pergantian fenomena baru yang mengagumkan. (P3)