Kolom
Ke Mana Pendidikan Kita Akan Dibawa?
Try Harijono
Momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, tidak ada salahnya jika kita mengevaluasi arah pendidikan kita. Bukan untuk menghakimi apalagi menyalahkan, tetapi mengintrospeksi diri, apakah jalan yang kita tempuh sudah sesuai dengan yang kita tuju? Apakah langkah kita sudah benar? Di titik inilah kita perlu berdiri sesaat, menarik nafas sejenak, kemudian melihat lagi arah pendidikan awal yang sudah kita canangkan.
Sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dijelaskan secara rinci tujuan tersebut. Misalnya saja, mengembangkan kompetensi artinya menjadikan manusia yang sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri. Kemudian karakter warga negara diartikan membentuk manusia yang demokratis dan bertanggung jawab.
Meski demikian menjadi pertanyaan bahkan bahan diskusi yang menarik mengenai TOLOK UKUR, tujuan pendidikan tersebut sudah tercapai atau belum tercapai. Sebagai contoh, apa ukurannya sehat? Apakah siswa tidak pernah sakit selama setahun, dua tahun, atau apa? Apa ukurannya berilmu? Apa ukurannya kreatif dan mandiri? Belum lagi standar yang diinginkan dari : manusia yang demokratis dan bertanggung jawab, ukurannya apa tujuan pendidikan itu sudah tercapai?
Pemerintah memang memiliki tolok ukur tersendiri mengenai tujuan tersebut, tetapi sangat mengawang-awang. “Bahasanya” terlalu tinggi dan sulit dimengerti bagi pelaksana di lapangan. Ukuran itupun terbagai dua, yakni indikator kuantitatif yang bisa diukur dengan data statistik, serta indikator kualitatif yang sulit dikuantfikasi seperti keimanan, ilmu, dan karakter.
Untuk indikator kuantitatif, ada empat variebel yang diukur, pertama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menyoroti tiga dimensi dasar, yakni kesehatan (diukur dari Angka Harapan Hidup) saat lahir, pendidikan (diukur dari Harapan Lama Sekolah / HLS serta Rata-rata Lama Sekolah /RLS) dan standar hidup layak yang diukur dari pengeluaran per kapita. IPM Indonesia meningkat 0,88 poin dari 75,02 pada tahun 2024 menjadi 75,90 pada tahun 2025.
Kedua, mengukur angka partisipasi sekolah yang dilakukan melalui tiga indikator utama yakni Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Kasar (APK), dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) di semua jenjang pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA/SMK. Ketiga, hasil PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam menerapkan pengetahuan matematika, sains, dan membaca untuk memecahkan masalah kehidupan nyata.
Keempat adalah Rapor Pendidikan Indonesia yakni platform laporan komprehensif yang menyajikan data hasil asesmen nasional, survei lingkungan belajar, serta data satuan pendidikan lainnya. Ini berfungsi sebagai bahan evaluasi diri bagi sekolah dan Pemda untuk mengukur mutu, merefleksikan hasil, dan merencanakan perbaikan berbasis data (PBD) secara berkelanjutan.
Tantangan muncul untuk indikator tujuan pendidikan yang sulit diukur seperti menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, atau frasa cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan pendidikan ini belum ada instrumen pengukuran yang baku dan disepakati secara nasional. Meski demikian di tengah maraknya kasus perundungan di kalangan siswa, intoleransi, kenakalan, kekerasan, bahkan kriminaliatas, tujuan pendidikan seperti ini sudah sepantasnya kita pertanyakan pencapaiannya. Apakah sudah tercapai atau belum?
Pertanyaan ini menjadi penting dan mendesak untuk dijawab, karena UU Sisdiknas sudah berusia lebih dari dua dekade, sejak 2003. Tujuan pendidikan nasional sangat mulia, luhur dan ideal. Meski demikian, perlu kita jawab secara jujur, apakah 23 tahun melangkah kita sudah semakin mendekati tujuan yang diinginkan? Jika belum, dimana letak persoalannya. Bagaimana solusinya? Lebih penting lagi, kemana arah pendidikan Indonesia akan dibawa? Yuk kita jujur.