Kolom
Caudillismo, Commodus, dan Politik Kita
M Subhan SD
Kasus Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah, selain temuan barang bukti yang sangat mencengangkan itu (uang ratusan miliar dan emas batangan 74 kilogram), juga mencoloknya rivalitas antarlembaga penegak hukum. Walaupun belakangan tampak ada upaya untuk menetralisasi tapi publik sudah kadung mafhum bahwa rivalitas kejaksaan versus kepolisian bukan barang baru. Bukan sekali-dua kali kasus persaingan antarlembaga. Misal, kepolisian dan KPK, kerap terlihat seperti film kartun Tom and Jerry. Masih ingat kasus “cicak versus buaya”, salah satu fakta rivalitas itu.
Fenomena rivalitas kekuasaan mengingatkan pada caudillismo di Amerika Latin. Caudillismo adalah kekuasaan yang terbagi di tangan para komandan militer dan pemimpin daerah. Caudillismo muncul di kala kekuasaan melemah selepas perang kemerdekaan di awal abad ke-19. Caudillismo merata terjadi mulai dari Meksiko, Venezuela, Ekuador, Kolombia, Peru, Bolivia, hingga Argentina dan Chile. Tokoh-tokoh militer sangat dominan, misal José Antonio Paéz di Venezuela, Juan José Flores di Ekuador, Francisco de Paula Santander di Kolombia, Agustin Gamarra Dan Andres de Santa Cruz di Peru, Andrés de Santa Cruz di Bolivia, Juan Manuel de Rosas Dan Facundo Quiroga di Argentina, atau Antonio Lopez de Santa Anna di Meksiko.
Kekuasaan terbagi
Dalam sejarah Amerika Latin, caudillo adalah pemimpin militer dengan gaya personalistik dan otoriter. Sebagai veteran, mereka memang kharismatik, yang merupakan buah dari kepemimpinan mereka selama perang melawan kolonial Spanyol. Namun, konsep caudillo juga merujuk pada rezim politik yang memperlihatkan militerisasi politik, lemahnya hukum, runtuhnya tatanan politik, desentralisasi kekuasaan. Setiap caudillo memiliki ruang kekuasaan masing-masing, tak terkendali secara nasional. Setiap caudillo punya pengikut yang militan.
Dalam konteks Indonesia, pola caudillo bisa dimaknai sebagai institusi, selain sebagai figur. Masing-masing institusi dengan kekuasaan (kewenangan) yg dimilikinya berebut pamor, otoritas, dan ego masing-masing. Di sini terlihat persaingan yang berujung perseteruan antarlembaga. Polisi, Kejaksaan Agung, dan KPK sama-sama punya wewenang sendiri-sendiri. Dalam kasus korupsi, misalnya, bisa terjadi tumpang-tindih. Rivalitas ini akan runyam ketika pemimpin nasional tak terlihat sepak terjangnya, atau katakanlah membiarkan terjadinya persaingan di antara anak buah.

Commodus
Seorang pemimpin tidak bisa dikatakan kuat bilamana membiarkan rivalitas yang berbuntut tatanan dan mekanisme penyelenggaraan negara jadi bermasalah. Kita bisa becermin dari sosok Commodus, kaisar Romawi era tahun 180-192. Commodus adalah anak Kaisar Marcus Aurelius. Lucius Aelius Aurelius Commodus Augustus, begitu nama lengkapnya, menjadi kaisar paling kontroversial.
Berbeda dengan bapaknya, sepertinya Commodus tak berminat mengurus negerinya seserius bapaknya. Pasukan Romawi ditarik dari wilayah utara yang menghadapi etnik German. Timbullah krisis kepercayaan, sehingga terjadi pemberontakan di wilayah-wilayah seperti di Spanyol, Gaul (Perancis), Britannia, juga Dacia (Eropa Tenggara). Tentara yang tidak puas marah dan melampiaskan dengan merampok dan menjarah desa-desa. Berbagai masalah muncul seperti merajalelanya korupsi, bencana kelaparan, dan wabah penyakit.
Kenaikan takhtanya pun dianggap bermasalah. Ia dimagangkan ke dalam pemerintahan. Sang ayah mengangkatnya sebagai kaisar bersama (co-emperor) sejak usia lima tahun. Sebuah kebiasaan tak lazim dalam suksesi di Romawi. Praktik nepotisme itu merusak sistem suksesi Romawi yang biasanya memilih tokoh-tokoh hebat atau jenderal kuat yang sudah teruji. Tak heranlah praktik nepotisme itu pun merusak tatanan yang sudah dibangun di Romawi.
Suka dipuja habis-habisan
Terbukti Commodus tidak becus mengurus negara. Ia menyerahkan urusan negara kepada bawahannya, yang tidak kompeten dan berintegritas rendah. Akibatnya negara makin terpuruk. Sebetulnya, menurut para ahli yang meneliti tentang Commodus, sang kaisar bukanlah sosok jahat, tetapi ia adalah sosok lemah yang mudah dipengaruhi oleh sekelompok penjilat (Usilton, 2024). Masalahnya, Commodus ingin dipuja, diberi tepuk tangan, gila hormat. Takhta saja tak cukup.
Commodus pun larut dalam kehidupan duniawi. Gaya hidupnya hura-hura, suka dengan hiburan. Maka ia begitu menikmati permainan gladiator. Episode Commodus ini diabadikan dalam film Gladiator (2000), yang dibintangi Russel Crowe dan Joaquin Phoenix. Commodus turun ke arena Colosseum, bahkan ratusan kali. Mengalahkan lawan-lawannya. Membunuh singa, kuda nil, unta, badak, harimau. Tampaknya ia petarung sejati. Tetapi, tunggu dulu, semua kemenangannya itu sudah diatur. Tidak ada yang menang murni. Kehebatannya dikontruksi. Permainan tipu muslihat yang mengelabui publik.
Commodus sangat menikmati permainannya. Disanjung dan dipuja habis-habisan. Ia meresapi setiap suara riuh-rendah tepuk tangan. Ia makin jumawa. Makin besar kepala. Para pendukungnya selalu memberikan jempol, menjilat tak habis-habisnya. Semua yang dilakukan Commodus selalu dibenarkan, selalu dibela. Sampai-sampai sang kaisar terlena. Tak sadar lagi ketika langkahnya keliru. Hingga mengklaim sebagai penjelmaan Hercules, legenda dalam mitologi Yunani. Ia mengganggap dirinya hebat, agung, besar, cerdas, powerful. Menjadi megalomania. Ia berada dalam bayangan ilusi, di antara sanjungan para pendukungnya.
Uang negara dikuras
Karena memikirkan dirinya seolah-olah hebat, ia tidak sadar bahwa ia telah gagal memimpin Romawi. Uang negara digunakan untuk kesenangan pribadinya. Uang negara dikuras, dihambur-hamburkan sesuai keinginannya. Korupsi makin parah. Terjadilah krisis ekonomi dan instabilitas politik. Timbul ketidakpuasan di kalangan publik dan elite. Sekelompok orang — justru orang-orang terdekatnya — berkonspirasi berencana menghabisinya. Sampai akhirnya Commodus tewas dicekik pegulat bernama Narcissus setelah gagal diracun.
Caudillismo dan Commodus adalah fakta politik di masa silam. Dan, karakter sejarah itu ibarat perputaran waktu, selalu berulang (histoire se repete). Bagaimana dengan politik di Indonesia, adakah praktik caudillismo dan sosok Commodus?