Palmerah.online

Koperasi, Bukan Koper Isi

Try Harijono Try Harijono

Denmark sering kali menjadi contoh keberhasilan pengelolaan koperasi. Negara berbentuk kerajaan di Eropa Utara yang berpenduduk sekitar enam juta jiwa ini, sekitar 90 persen produksi susunya dikelola oleh koperasi. Bahkan Denmark menjadi salah satu eksportir produk pangan terbesar di dunia yang dikelola koperasi. Arla Food yang mengelola produk susu serta Danish Crown yang mengelola daging, produknya beredar luas di berbagai negara.

Adapun Belanda salah satu contoh negara yang berhasil mengembangkan koperasi menjadi perusahaan global. Banyak koperasi di Belanda yang menjadi perusahaan multinasional dan produknya menyebar ke ke seluruh dunia. Misalnya, jika kita menuangkan Susu Bendera (Frisian Flag) saat menyeduh kopi atau menuangkannya ke atas roti, kita sedang menikmati salah satu produk koperasi susu terbesar di Belanda Royal FrieslandCampina. Begitupun saat kita membaca plang nama Rabobank, itulah salah satu contoh bank koperasi terbesar di dunia yang berpusat di Belanda.

Begitupun di Jepang, koperasi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Koperasi hadir hampir di setiap aspek kehidupan, mulai dari pertanian, perikanan, perbankan dan bahkan asuransi. Salah satu koperasi terbesar di Jepang antara lain Japan Agricultural Cooperatives (JA Group) dan Norinchukin Bank.

Finlandia di Eropa Utara yang berpenduduk sekitar 5,7 juta jiwa, jumlah anggota koperasinya bahkan lebih banyak, yakni sekitar 7 juta jiwa. Artinya, penduduk menjadi anggota beberapa koperasi sekaligus karena koperasi bergerak di banyak kegiatan usaha dan sangat menguntungkan masyarakat. Bahkan koperasi di Finlandia mendominasi sektor ritel dan jasa keuangan. Finlandia yang merupakan negara paling makmur dan paling aman di dunia sering menjadi contoh tingginya partisipasi masyarakat dalam koperasi.

Selandia Baru, juga sukses mengembangkan koperasi. Produk koperasi Selandia Baru yang paling dominan masuk ke Indonesia antara lain produk susu dan olahannya (dairy) seperti keju, yogurt, dan mentega. Produk ini sebagian besar diproduksi dan diekspor oleh Fonterra, salah satu koperasi peternak multinasional terbesar asal Selandia Baru.

Pertanyaannya, mengapa koperasi bisa berkembang kuat di banyak negara? Keberhasilan koperasi di negara-negara seperti Denmark, Belanda, Jepang, Finlandia, Jerman, Selandia Baru, dan berbagai negara lainnya, bukan terjadi secara kebetulan. Mereka membangun koperasi melalui proses panjang yang didukung oleh kebijakan pemerintah, budaya masyarakat, dan pengelolaan yang profesional.

Di negara-negara tersebut, koperasi tidak dianggap sebagai organisasi sosial atau usaha kecil yang bergantung pada bantuan pemerintah. Koperasi diperlakukan sebagai perusahaan yang harus efisien, kompetitif, dan menghasilkan keuntungan bagi anggotanya. Misalnya, FrieslandCampina di Belanda dan Fonterra di Selandia Baru merupakan perusahaan multinasional yang bersaing dengan korporasi swasta di pasar global. Meskipun demikian, kepemilikannya tetap berada di tangan para petani sebagai anggota koperasi.

Koperasi-koperasi besar dikelola oleh manajemen profesional dengan standar tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Pengurus dipilih oleh anggota, tetapi pengelolaan operasional sehari-hari dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidang bisnis, keuangan, pemasaran, dan teknologi. Dengan demikian, koperasi mampu mengambil keputusan bisnis secara cepat dan tepat, tanpa mengabaikan prinsip demokrasi ekonomi.

Yang menarik, pemerintah sama sekali tidak ikut campur dalam mengelola koperasi. Pemerintah hanya menyediakan kerangka hukum yang jelas sehingga koperasi memperoleh kepastian dalam menjalankan usaha. Pemerintah juga tidak menunjuk pengurus koperasi, tidak mengatur keputusan bisnis sehari-hari, dan tidak menentukan kepada siapa koperasi harus menjual produknya. Keputusan tersebut diambil oleh anggota melalui rapat anggota dan dijalankan oleh manajemen profesional. Koperasi didorong untuk mandiri dan bertanggung jawab kepada anggotanya.

Di negara-negara tersebut, militer sama sekali tidak terlibat. Sekali lagi, tidak terlibat. Baik dalam membangun gedung, menyiapkan pengurus, melatih calon pengelola, apalagi dalam aktivitas bisnis koperasi. Tugas militer dibatasi pada fungsi pertahanan negara. Kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk koperasi, berada di luar lingkup institusi militer.

Satu hal lagi yang terpenting, adalah tingginya kepercayaan (social trust) masyarakat terhadap koperasi. Masyarakat merasakan sendiri dampak keberadaan koperasi terhadap kehidupan sehari-hari mereka, sehingga secara sukarela menjadi anggota. Masyarakat percaya bahwa koperasi dikelola secara transparan dan akuntabel, dengan melibatkan tenaga-tenaga profesional.

Skoementara pengurus yang dipilih oleh angggoata, menjaga integritas dan kepercayaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Semuanya ingin mengembangkan dan memajukan koperasi. Tidak ada pengurus yang punya niat memperkaya diri sendiri, atau melakukan manipulasi dan korupsi di tubuh koperasi. Karena itu, tidak benar jika ada plesetan, koperasi adalah koper isi.

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku