Palmerah.online

Kala Senja Tak Jatuh di Pelataran Keraton Ratu Boko

Palmerah.online

Panorama senja tampaknya paling ikonik ketika mengunjungi situs Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Semburat jingga matahari yang hendak pergi ke peraduan menjadi momen paling mengesankan. Cahaya matahari yang memantul dari ufuk barat membentuk garis-garis cahaya berwarna jingga, menembus  celah-celah awan. Di Keraton Ratu Boko, garis-garis cahaya itu membentuk siluet cantik dengan cahaya berpendaran di bangunan gerbang keraton. Dan, gerbang itu membingkai matahari yang tepat berada di lubang gerbang pintunya.

Dengan harapan dapat menikmati momen sunset cantik, sore itu saya buru-buru bergegas dari kawasan Candi Prambanan menuju arah selatan. Dengan sepeda motor sewaan, jaraknya tak sampai 6 kilometer dan waktu tempuh sekitar 12 menit. Keluar area parkir Candi Prambanan melewati Jalan Candi Sewu, berbelok ke Jalan Raya Yogya-Solo, lalu melewati Jalan Piyungan-Prambanan, kemudian berbelok kiri mengambil Jalan Ratu Boko. Sore itu udaranya cukup asyik untuk mengendarai sepeda motor. Cuaca tidak panas. Matahari terlihat agak malu-malu.

 

Pintu gerbang atau gapura Candi Ratu Boko hanya berhias awan putih ketika cuaca mendung pada suatu sore di pertengahan 2025. Subhan SD

Redaksi | Palmerah.Online

Pintu gerbang atau gapura Candi Ratu Boko hanya berhias awan putih ketika cuaca mendung pada suatu sore di pertengahan 2025.

Puncak bukit berpanorama indah

Tiba di kompleks Keraton Ratu Boko di sebuah kawasan perbukitan setinggi sekitar 200 meter dari permukaan laut (mdpl) ternyata matahari tetap enggan menampakkan diri. Padahal sejak pagi hingga siang, sinar matahari memancar terik. Sore itu, langit terbilang cerah tapi hanya dipenuhi awan putih berarakan. Tak ada garis-garis cahaya matahari sore. Apa mau dikata, sore itu saya tak bisa menikmati pemandangan ikonik, karena semburat jingga tak jatuh di pelataran situs Ratu Boko, yang menghadap ke barat.

Memang sayang tapi alam punya karakternya sendiri. Apalagi keindahan dan keunikan situs bersejarah Ratu Boko tak kalah memesonanya meski tanpa semburat senja yang ikonik. Berada di pelataran Keraton Ratu Boko, terlihat hamparan sawah, bukit, dan perumahan. Sebetulnya bila udara cerah, mata dapat menyapu pemandangan ke arah 360 derajat.

Di sebelah barat tampak  panorama kota Yogyakarta. Di sebelah selatan-tenggara di kejauhan kawasan terlihat bentangan pegunungan Sewu dengan batu-batu karstnya. Di sebelah utara tampaklah Candi Prambanan, hingga keindahan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Bahkan di kejauhan juga bisa melihat puncak Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Dibangun Rakai Panangkaran dari Wangsa Syailendra

Keraton Ratu Boko ini sering kali keliru dimengerti. Banyak orang menyebutnya sebagai “candi”. Ada dugaan situs ini merupakan istana Prabu ratu Boko di era Mataram. Tetapi itu juga dibantah sejumlah sejarawan, melihat kondisi situs yang dianggap kurang mendukung sebagai wilayah hunian kerajaan, kecuali sebagai tempat sementara atau semacam benteng.  Biarkan tafsir sejarah mengikuti logika dan bukti-bukti yang valid. Yang sudah pasti, semua ahli sepakat bahwa situs itu dibangun oleh Wangsa Syailendra yang beragama Buddha pada abad ke-8, kemudian diambil alih oleh raja-raja Mataram Hindu. Karena itu, situs purbakala ini dipengaruhi agama Buddha dan Hindu.

Prasasti tertua di situs ini adalah prasasti Abhayagiriwihara berangka tahun 792 ( 714 Saka). Berdasarkan prasasti diketahui situs ini adalah wihara di puncak bukit yang damai, menjadi tempat menyepi Rakai Panangkaran (Sang Jatiningrat) setelah mengundurkan diri sebagai Raja Mataram. Rakai Panangkaran adalah raja kedua di Kerajaan Mataram Kuno (Medang) dengan masa pemerintahan terlama 38 tahun (746-784 M).

Situs Ratu Boko juga terindentifikasi sebagai lokasi pertempuran seperti dicatat Prasasti Siwagrha (tahun 856). Prasasti itu menyebutkan peperangan menentang pemerintahan Raja Rakai Pikatan, Raja Medang ke-7 yang berkuasa tahun 847-855, pembangun Candi Prambanan.  Pertempuran terjadi di sebuah benteng di atas bukit yang dilindungi oleh sebagian besar dinding batu. Bukit benteng ini diduga situs Ratu Boko. Berdasarkan sejumlah prasasti, situs ini kemudian menjadi tempat kediaman Rakai Walaing Pu Khumbayoni yang beragama Hindu.

Sebagai kediaman atau benteng, apalagi tempat tetirah, kawasan Ratu Boko memang terbilang sangat cocok. Posisinya di atas bukit, di ketinggian 195,97 mdpl. Tidak mudah diakses, terlindungi, dan jauh dari pusat keramaian. Tapi pemandangannya cantik. Situs Ratu Boko ini disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, giri artinya bukit, dan wihara berarti asrama. Abhayagiri Wihara berarti asrama para bhiksu yang berada di puncak bukit penuh kedamaian.

Tangga menuju Gapura I Subhan SD
Kolam berukuran 53 meter x 23 meter, sedalam sekitar 2 meter. Subhan SD

Legenda Roro Jonggrang

Kalau legenda, situs Ratu Boko ini disebut istana Ratu Boko, ayah Roro Jonggrang. Kisah Roro Jonggrang sudah sangat terkenal sebagai cerita rakyat, terkait pembangunan Candi Prambanan. Prabu Boko digambarkan sebagai raja pemakan manusia. Tapi ia berhasil dikalahkan Bandung Bondowoso, pangeran Kerajaan Pengging. Rupanya Bandung Bondowoso kepincut putri Prabu Boko bernama Roro Jonggrang, yang berparas cantik. Roro Jonggrang menolak Bandung Bondowoso yang dilukiskan berparas tidak tampan. Tidak bisa menolak langsung, Roro Jonggrang memberikan dua syarat: Bangun sumur dan 1.000 candi. Jika  dua syarat itu terpenuhi dalam satu malam, Roro Jonggrang bersedia menerima pinangan Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso dengan cepat menggali tanah dan sekejap sumur Jalatunda mampu dibuatnya. Melihat gelagat itu, Roro Jonggrang  lalu mendorong Bandung Bondowoso ke dalam sumur dan melemparinya dengan bebatuan. Tetapi Bandung Bondowoso yang sakti berhasil ke luar dari sumur.

Untuk syarat kedua, Bandung Bondowoso meminta bantuan makhluk halus. Dalam sekejap juga sudah berdiri 999 candi. Bandung Bondowoso dipastikan berhasil memenuhi syarat kedua, karena pagi belum tiba. Melihat tu, Roro Jonggrang gelisah. Ia menemukan ide menggagalkan upaya Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang memerintahkan dayang-dayangnya untuk menyalakan api dan membakar jerami sehingga warna langit memerah, sehingga ayam-ayam pun berkokok.  Artinya pagi telah tiba. Suara lesung yang ditumbuk pun membuat balatentara makhlus pergi. Padahal tinggal satu candi lagi yang belum terbangun.

Bandung Bondowoso murka. Merasa dikerjai, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung batu. Kini patung batu itu dikenal sebagai arca Durga yang ada di dalam ruangan candi yang kemudian dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Candi-candi lain di sekitarnya disebut Candi Sewu (Candi Seribu).

 

Pelataran yang merupakan bagian dari pendapa. Subhan SD

Proses penemuan

Jadi, situs Keraton Ratu Boko punya tali-temali dengan Candi Prambanan. Sekali lagi, itu adalah legenda rakyat di tanah Jawa. Dalam catatan arkeologi, Candi Prambanan dibangun atas perintah Raja Pikatan sekitar tahun 850. Situs Ratu Boko yang hilang dari sejarah ditemukan pertama kali pada tahun 1790 oleh Francois van Boeckholtz, arkeolog yang juga asisten residen Surakarta.  Kala itu Boeckholtz juga tengah menemukan kembali situs Prambanan, setelah C.A. Lons (1733), JG Loten (1740), dan Sterrenberg (1744).

Artinya sekitar 940 tahun atau hampir satu milenium, jejak situs Ratu Boko hilang.  Waktu itu van Boeckholtz hanya mencatat adanya struktur batu persegi berserakan di atas bukit di dekat Sungai Opak. Namun justru menarik dan membuat penasaran Sir Thomas Stanford Raffles,  yang berkuasa di Jawa pada 1811-1816.  Raffles memerintahkan Colin Mackenzie untuk mengecek temuan van Boeckholtz. Namun baru pada tahun 1915, penelitian serius dimotori  FDK Bosch, yang kemudian membuat laporan tentang “Kraton van Ratoe Boko”. Setelah itu disusul penelitian yang dilakukan WF Sutterheim dan epigraf JG De Casparis pada tahun 1926.

Sore itu, di bawah langit yang tanpa semburat senja, kaki melangkah menaiki tangga mengelilingi situs Ratu Boko.  Di depan mata tampak Gapura I dan Gapura II dalam arah sejajar menghadap ke barat. Gapura I berada pada teras kedua, sedangkan gapura II berada pada teras ketiga. Gapura I terdiri tiga buah gapura yang disusun berimpitan membujur utara selatan. Gapura bagian tengah berukuran lebih besar (gapura utama) dengan lantai pintu masuk lebih tinggi dibanding dua gapura yang mengapitnya (gapura apit).

Gapura berbentuk paduraksa dengan atap bangunan berbentuk ratna. Untuk sampai di Gapura I, saya meniti lima anak tangga. Kemudian beberapa langkah lagi menaiki anak tangga untuk sampai di Gapura II yang memiliki lima pintu.  Untuk sampai di Gapura II, barangkali meniti sekitar 13 anak tangga di bagian gapura utama. Bila tak keliru tangga di gapura apit sekitar 17 anak tangga.

Di teras kedua, terdapat struktur Candi Batu Putih berbentuk batur berdenah bujur sangkar. Candi Batu Putih tampak hanya sisa-sisanya. Batur candi ini memiliki panjang-lebar 11,30 meter dan tinggi 1,26 meter. Bagian kaki ukuran panjang-lebarnya 10,27 meter dan tinggi 1,10 meter.

Di teras ketiga terdapat Candi Pembakaran. Struktur bangunan ini terbuat dari batu andesit. Panjang 22,6 meter dan lebar 22,32 meter, dengan tinggi 3,82 meter. Di area bangunan ini ditemukan abu di sumur sehingga disebut Candi Pembakaran. Diduga tempat penyimpanan abu jenazah raja. Namun, berdasarkan penelitian ternyata sisa-sisa abu pembakaran kayu bukan pembakaran tulang manusia.

Keputren dan kolam-kolam yang diduga sebagai area privat. Subhan SD

Di teras ini juga terdapat kolam, yang baru ditemukan kembali pada tahun 2004. Bentuknya persegi panjang, berukuran 53 meter x 23 meter, dengan kedalaman sekitar 2 meter. Kolam dipahat langsung di batu cadas alam (bedrock). Ada juga alun-alun yang cukup luas.

Terus menyusuri jalan, ada pendapa dan paseban. Area ini cukup luas. Diduga tempat pertemuan, upacara, atau kegiatan kerajaan. Berjalan terus ke arah belakang atau arah timur akan dijumpai keputren dan kolam. Di sini terlihat ruang-ruang tertutup yang diduga area privat atau tempat pemandian. Di pojok terpencil ada dua gua, Lanang dan Wadon, dan tampaknya merupakan lokasi meditasi di masa silam.

Di sore tanpa senja jingga, berdiri di bagian pendapa situs Ratu Boko, saya merasakan suasana yang cukup hening, sembari melempar pandangan ke semua penjuru mata angin. Di langit terlihat cakrawala  yang begitu luas. Di Bumi tampak hamparan luas pepohonan hijau dan gunung-gunung di kejauhan. Rasa-rasanya cocok untuk sejenak bertafakur atau bermeditasi, keluar dari keruwetan kehidupan kota. (M Subhan SD)

 

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku