Utama
Kebangkitan Nasional, Era Kekuatan Akal
Kebangkitan Nasional adalah momentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebuah tonggak perjalanan bangsa yang ditempa oleh beratnya beban penindasan kolonialisme Belanda. Kebangkitan Nasional sekaligus menjadi penanda era baru pola perjuangan bangsa Indonesia; bukan lagi sebagai kekuatan otot (perjuangan fisik) tetapi mengutamakan kekuatan akal (pertarungan pemikiran dan ide-ide cemerlang).

Tahun 2026 ini kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-118. Diperingati setiap tanggal 20 Mei. Tanggal itu mengacu pada peristiwa didirikannya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Budi Uomo dinilai sebagai organisasi pertama yang didirikan pribumi dan dianggap sebagai pelopor tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi pergerakan lainnya.
Budi Utomo didirikan oleh Sutomo, siswa kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia (Jakarta) pada 20 Mei 1908 di aula sekolah pendidikan dokter bumiputra itu. Saat pendirian Budi Utomo, mereka yang hadir bukan hanya siswa STOVIA, tetapi juga para siswa sekolah kehewanan di Bogor, siswa sekolah pamong praja (OSVIA) di Magelang dan Probolinggo, siswa sekolah menengah petang di Surabaya, siswa sekolah pendidikan guru di Bandung, Yogyakarta, Probolinggo. Pagi itu aula STOVIA bergemuruh dengan suara tepuk tangan begitu organisasi Budi Utomo dideklarasikan.
Sutomo bergerak bersama rekan-rekannya para pelopor Budi Utomo. Mereka antara lain Goenawan Ciptomangunkusumo, Soewarno, Mohammad Saleh, Gombreng, Soelaiman, Suraji. Rata-rata usia sangat belia, antara 20-22 tahun.
Saat itu Budi Utomo sudah berdiri di tiga lokasi: OSVIA Magelang, sekolah pendidikan guru di Yogyakarta, dan sekolah menengah petang di Surabaya. Para motor Budi Utomo itu bergerak cepat dan berupaya sekuat tenaga merebut hati para siswa sekolah yang merupakan generasi yang masih belia. Gaung Budi Utomo meluas dan dengan cepat menyebar ke daerah-daerah. Dalam waktu dua bulan saja, jumlang anggota Budi Utama mencapai 650 orang pada bulan Juli 1908.
Peran Dokter Wahidin Sudirohusodo
Kehadiran Budi Utomo itu tak bisa dilepaskan dari sosok dan pengaruh dokter Wahidin Sudirohusodo. Wahidin adalah alumnus dan pernah mengajar di STOVIA. Berarti ia senior jauh Sutomo. Sejak tahun 1901, Wahidin menjadi redaksi majalah Retnodoemilah yang terbit sejak tahun 1895. Wahidin gencar dan fokus untuk pendidikan dan penyadaran orang Jawa. Ia sangat perhatian pada pendidikan kaum muda. Wahidin berkeliling menemui para priayi dan mengemukakan gagasannya untuk “kebangkitan pribumi” Jawa. Banyak respons positif. Namun, tidak sedikit juga priayi setingkat bupati yang melihat langkah Wahidin sebagai ancaman terhadap status quo. Apalagi melihat kedudukan sosial Wahidin yang dianggap lebih rendah sekelas priayi desa atau setingkat asisten wedana (Akira Nagazumi, 1989, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia).
Beda lagi ketika berhadapan dengan siswa-siwa kedokteran di STOVIA. Pada tahun 1907, dalam suatu perjalanannya itu, Wahidin singgah di STOVIA, ingin beristirahat sejenak. Namun, begitu mendengar dr Wahidin mampir di STOVIA duo sahabat Sutomo dan Suraji justru mengundangnya untuk mendengar gagasan-gagasan Wahidin. Pertemuan yang tak terduga itu justru membuat kedua sahabat itu tergugah dan terprovokasi. Dr wahidin yang berpembawaan tenang dan percaya diri itu justru berhasil memancing semangat anak-anak muda siswa STOVIA itu. Mereka mengagumi Wahidin yang memilki semangat baja dengan gagasannya meskipun usianya sudah generasi tua. Kala itu Wahidin berusia 55 tahun. Tetapi Sutomo dan Suraji mengangumi tekad dan komitmen dr Wahidin yang tidak mementingkan diri sendiri.
Membuka Pikiran
Pertemuan itu sangat mengesankan bagi Sutomo. Dalam Kenang-kenangan; Beberapa Poengoetan Kissah Penghidoepan Orang yang Bersangkoetan dengan Penghidoepan Diri Saia (1933), Sutomo mengakui, “Yang membikin saya terkejut dan tertarik ialah perangai dan pikiran dokter tua ini. Ia mampu memusatkan kegiatannya dan mengatasi rintangan-rintangan yang terus-menerus menghalangi cita-citanya…Saya berhadapan dengan Dokter Wahidin Sudirohusoso, yang berwajah tenang tapi tajam, dan kepandaiannya mengutarakan pikirannya sangat berkesan pada saya. Suaranya yang jelas dan tenang membuka pikiran dan hati saya, membawa gagasan-gagasan baru dan membuka dunia baru yang meliput jiwa saya yang terluka dan sakit.”
Dari pertemuan tak terduga itu, justru menjadi tonggak perjuangan bangsa: lahirnya Budi Utomo yang menjadi penanda kebangkitan bangsa, meskipun berawal dari lingkup kecil untuk kalangan orang-orang Jawa. Dari makna namanya saja, Budi Utomo adalah sebuah perjuangan dengan “keluhuran budi” atau semacam “kekuatan pikiran atau akal”. Inilah era baru pergerakan nasional, setelah berabad-abad puzzle-puzzle perjuangan bangsa-bangsa di Indonesia melalui jalan kekuatan (konfrontasi fisik, pertempuran). Pada awal abad ke-20, ketika era Politik Etis tatkala penguasa kolonial Belanda merasa “berutang budi” setelah mengeruk keuntungan berabad-abad lamanya dari bumi Indonesia, putra-putri bangsa berjuang dengan kekuatan akalnya yang dapat menghadapi kolonial Belanda. (P5)