Topik Pilihan
Bersihkan Kalbu agar Kinclong
Hati adalah organ penting manusia. Semua problem bersumber dari hati. Ada rasa iri, dengki, hasad, suka bergunjing, marah, sebal, berdatangan dari hati. Sebaliknya ada rasa cinta, bahagia, baik, damai, juga bersumber dari hati. Hati dalam bahasa agama disebut kalbu. Eksistensi kalbu ini sangat penting. Dalam hadist, nabi Muhammad mengatakan, terutama hati menentukan, kalau hatinya busuk maka busuklah, kalau hatinya baik maka baiklah. Oleh karena itu, mengelola dan menata hati sangatlah penting.
Pesan pentingnya menata kalbu agar kinclong terungkap dalam bedah buku “Kalbu Kinclong: Ini Bukan Tausiah” karya Tingka Adiati yang digelar di Palmerah Bookstore di Marchand Hype Station, Emerald Boulevard Bintaro, Tangerang Selatan, Sabtu (28/2/2026). Tingka Adiati, penulis buku, memaparkan latar dan tujuannya menyusun buku tersebut. Ia mulai mempelajari kajian agama, setelah ada dua peristiwa yang ia merasa sedang “dijewer” oleh Allah. Yaitu ketika suami sakit dan kemudian berpulang dalam usia muda, yaitu 46 tahun. Sejak itu, ia merasa tersadar, kemudian ia negbut belajar tentang agama. Ia mengikuti kajian-kajain yang di forum-forum online. “Pokoknya saya kejar setoran”, katanya.
Ia menyimak, mencatat, dan berpikir. dari catatan-catatan forum kajian agama yang diikutinya, ia pun mencatat hal-hal yang penting. Dari catatan-catatan itulah lahirlah buku berjudul “Kalbu Kinclong: Ini Bukan Tausiah”. Mengapa kalbu kincolong? “Ya seperti lantai yang habis dipel ya? Bayangkan kalau kalbu kita kinclong, maka otomatis tecermin di ucapan, sikap, dan perilaku kita,” katanya.

M Subhan SD, yang membahas buku tersebut mengapresiasi bahwa buku itu ringan jadi bacaan yang asyik, bahkan tak sampai satu jam tuntas dibaca. Dua hal yang menarik, pertama buku itu ditulis dengan gaya yang santai, malah istilahnya disajikan dengan gaya “bicara yang dtuliskan”. “Ya seperti orang sedang ngobrol,” katanya. kedua, buku ini menngulas tentang kegiatan sehari-hari atau problem yang dirasakan banyak orang. Jadi, membaca buku ini seakan-akan kita sedang membicarakan aktivitas kita sendiri.
Menurut Subhan, hati tu berlapis-lapis. Lapis pertama disebut ss-Sadr, lapisan luar yaitu dada. Lapis kedua, disebut kalbu. Lapis ketiga disebut al-Fuad, yaitu mata hati, di sini pada tingkat makrifat. Adapun lapisan keempat adalah al-Lubb. Posisi ini yang ada hanya satu saja yaitu mencintai Allah. (P5)