Palmerah.online

Foto & AI: AI Tak Punya Perasaan

Palmerah.online
subhan/palmerah.online

Di era digital, dunia fotografi, seperti banyak bidang lainnya, juga mengalami disrupsi. Tiga dunia berbenturan: fotografi, akal imitasi (AI), dan privasi. Dunia memang berubah, bahkan sangat cepat. Tidak bisa dihindari, termasuk fotografi. Dalam obrolan seru bersama fotografer Arbain Rambey yang membahas “Fotografi, AI, & Fotografi” di kios buku Palmerah Bookstore, Marchand Hype Station, Emerald Bintaro, Tangsel, Sabtu, 11 April 2026, terungkap bahwa AI sudah begitu jauh bahkan menjadi tandingan fotografi. Banyak foto yang dihasilkan oleh AI (artificial intelligence atau akal imitasi). Bahkan sulit dibedakan foto asli dan foto hasil AI. Di era AI posisi kita sudah telanjang, tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Mereka yang sering mengakses media sosial atau internet, datanya pasti sudah terekspose. AI sudah mengetahui dan mempelajari kita. “Kebiasaan kita sudah diketahui,” kata Arbain. Dia memberi contoh sederhana. Setiap hari ia mengakses google maps untuk perjalanan ke kantor. Karena sudah biasa, google maps pun langsung memberi notifikasi pada pagi hari, sebuah informasi mengenai perbaikan jalan di ruas jalan yang biasa dilewati. “Jadi, kalau bicara soal pribadi, sudah terlambat,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Foto itu.

Arbain Rambey dalam ngobrol, seru tentang fotografi, AI, dan privasi. subhan/palmerah
subhan/palmerah.online

Selain itu, AI juga sudah banyak membantu untuk memperbaiki foto-foto yang rusak, misalnya karena sudah terlalu lama sehingga usang atau ingin diubah warnanya. AI bisa memberi solusi. Dia mencontohkan untuk foto sebuah buku, ia permah memperbaiki foto Megawati Soekarnoputri. Foto itu adalah hasil jeperetan yang dilakukannya terhadap lukisan Megawati. Masalahnya muncul, baju yang dikenakan Megawati berwarna biru tua. Karena sesuai topik buku, ia ingin mengubah warna baju menjadi putih. Lalu solusinya digunakanlah AI. “Kalau pakai Photoshop butuh tiga hari, tapi kalau pakai AI tak sampai 10 menit,” ujarnya.

subhan/palmerah.online

Meski demikian, tidak semua bisa dibuat persis oleh AI. Dia memaparkan sejumlah foto yang menggambarkan sisi manusia atau human interest, yang tidak bisa dibuat oleh AI. Kalau pun ada, hasilnya tidak sama. Hasil foto manusia itu bisa sangat spesifik dan human touch-nya sangat kuat. “Sentuhan manusia itu tidak bisa diselesaikan oleh AI. AI nggak punya perasaaan,” katanya. (P5)

Tinggalkan Balasan

Komentar:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Publikasi Buku