Perjalanan hidup manusia merupakan roda yang selalu berputar mengikuti poros bumi, bulan, bintang, dan juga matahari. Di dalam rahim ibu demikian perjalanan manusia dari telur yang bertemu dengan sperma menghasilkan zigot-gastrula-blastula-morula dan seterusnya menjadi janin lengkap berkembang selama sembilan bulan sepuluh hari. Di dalam rahim ibu mendapatkan makanan dan kasih sayang dalam kandungan.
Perjalanan bayi yang berkembang sehat menyongsong kehidupan mulai dari belajar tengkurap, menggerakkan badan maju mundur, belajar mengangkat tubuh, merangkak dan berjalan-jalan walaupun dibarengi jatuh beberapa kali sampai menemukan jalan setapak-setapak, lari-lari kecil selanjutnya dapat berlari, bermain dengan teman-teman, main sepak bola, memanjat pohon sampai jatuh, berdiri lagi untuk mengejar harapan yang ada di depan mata.
Memasuki masa sekolah dari taman-kanak-kanak, bahkan play group, belajar bersosialisasi, berteman dengan teman-teman sekelas, sampai tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dengan masa puber yang harus dilewati, menuju Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi manusia yang harus belajar mandiri, pem-bentukan kepribadian dan pendewasaan dalam kejiwaan yang akan membentuk kepribadian seutuhnya. Selesai Sarjana, diteruskan belajar S2 di luar negeri di National University of Singapore (NUS) dan belajar S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Perjalanan mengabdi pada negara setelah selesai kuliah sarjana di UGM ada panggilan untuk menjadi dosen di perguruan tinggi ternama yaitu Universitas Indonesia, dimulai dari Golongan IIIa sampai mencapai golongan IVd, dengan jabatan fungsional dari asisten menjadi Guru Besar dicapai dari tahun 1980 sampai tahun 2017.
Perjalanan selama jadi dosen sempat mengunjungi Osaka University di Jepang pada 1981, University of New South Wales Australian di Sydney pada 1980, University of Hong Kong tahun 1990, Sekolah di National University of Singapore tahun 1986-1989, dan pada tahun 1997 mendapat kesempatan lagi di NUS untuk melengkapi penelitian program doktor (S3).
Perjalanan selama 43 tahun di Universitas Indonesia dengan segala suka dan duka telah dilampaui dengan tuntas membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Akhirnya menjalani masa pensiun pada usia 70 tahun untuk mengabdi dalam kegiatan lain. Ada pepatah Soldier Never Die diganti Teacher Never Die, berjuang dengan ilmu ditularkan kepada mahasiswa sebagai amalan ilmu yang bermanfaat akan dibawa pulang ke dunia keabadian yang lebih langgeng.
Buku ini menceritakan perjalanan seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga guru dengan 13 anak, satu di antaranya wafat saat berumur 10 tahun, dan berdua belas tumbuh dan dibesarkan. Namanya adalah Wibowo Mangunwardoyo, anak ke-7 dari 12 bersaudara. Sejarah dan pengalaman hidupnya dituliskan dalam buku ini secara sederhana dan enak dibaca. Setelah membaca buku ini akan dapat memetik pelajaran dari perjalanan hidupnya, bahwa kerja keras tanpa lelah dan berdedikasi tinggi dalam pencapaian cita-cita harus setinggi langit. Dari buku ini juga, kita dapat mengambil hikmah sangat berharga yang bisa diteladani, bahwa cita-cita diraih harus dengan perjuangan, keuletan, pantang menyerah, juga pengorbanan. Kesuksesan yang diraih oleh Prof. Dr. Wibowo Mangunwardoyo M.Sc merupakan hasil proses panjang, penuh variasi dan berliku. Keterbatasan dan kekurangan ekonomi bukanlah penghalang, bahkan akan menjadikan manusia lebih tangguh, tidak mudah menyerah, dan semangat berprestasi tinggi…Pengabdiannya selama 43 tahun di Universitas Indonesia dan pencapaiannya sebagai Guru Besar dapat memotivasi dosen-dosen muda untuk mengikuti jejaknya. (Prof. Dede Djuhana Ph.D, Dekan FMIPA UI)
- Judul: Aspergili dalam Sepi: Prof. Dr. Wibowo Mangunwardoyo M.Sc 70 Tahun
- Penulis: Try Harijono
- Tahun: Januari 2024
- Halaman: xviii + 202 hlm.



Ulasan
Belum ada ulasan.